JAKARTA--Kecil kemungkinan dampak El Nino akan mengurangi curah hujan di Indonesia. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Sri Woro B Harijono, mengatakan indeks El Nino tak langsung mempengaruhi curah hujan di Indonesia. Ini jika suhu perairan di Indonesia hangat.
"Jadi, indeks kekuatan El Nino itu tidak serta merta berpengaruh terhadap curah hujan, tergantung dari suhu di perairan Indonesia. Dari yang terpantau BMKG dan beberapa Institusi Internasional hingga September 2009, suhu perairan Indonesia masih hangat" ungkap Sri kepada Republika, Selasa.
Berdasarkan hasil prediksi BMKG, indeks El Nino yang tergolong dalam kategori kuat terpantau pada November 2009 dan Januari 2010. Sedangkan Juli-Agustus, tergolong dalam El Nino lemah, dan September-Desember tergolong dalam El Nino moderat.
Sri mengungkapkan masyarakat tidak perlu khawatir membaca data yang diungkapkan berbagai institusi internasional mengenai indeks kekuatan El Nino pada wilayah Indonesia. Karena pada dasarnya indeks kekuatan El Nino tersebut tidak untuk dikaitkan pada curah hujan di Indonesia, tetapi hanya memprediksi kekuatan El Nino.
Kekuatan El Nino baru dikaitkan dengan curah hujan di Indonesia jika memperhatikan sirkulasi massa uap air akibat perbedaan tekanan udara dan suhu di perairan Indonesia dan Pasifik Tengah. El Nino yang kuat akan mampu menarik massa uap air dari wilayah Indonesia apabila tekanan udara di perairan Indonesia lebih tinggi (atau suhu perairan Indonesia dingin) daripada di Pasifik Tengah.
Sri mengatakan kondisi perairan Indonesia sampai akhir 2009-awal 2010 baru akan terbaca pada awal Agustus 2009.
Meskipun demikian, katanya, melakukan antisipasi terhadap dampak El Nino di wilayah Indonesia tetap perlu dilakukan. Ia mengatakan batasan wilayah Indonesia yang curah hujannya dipengaruhi El Nino adalah Indonesia bagian timur, tengah, dan sebagian barat Indonesia.
Menurut Sri, gejala El Nino bukan merupakan siklus yang terjadi beberapa tahun sekali. Berdasarkan data terjadinya El Nino di Indonesia sejak 1957-2007, peristiwa ini terjadi tanpa ada pola yang beraturan. Sehingga terjadinya El Nino atau tidak sangat dipengarui kondisi iklim secara keseluruhan. una/eye
Sumber : Republika
Selengkapnya...
31 Juli 2009
Kecil Kemungkinan El Nino Kurangi Curah Hujan
23 November 2008
10 Danau di Indonesia Rusak
PALEMBANG, SENIN - Sedikitnya 10 danau di Indonesia rusak, sehingga fungsinya menurun . Hal tersebut akibat penggundulan hutan dan sedimentasi. Oleh karena itu, persoalan tersebut harus ditangani secara serius, tidak hanya oleh pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah.
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Departemen Kelautan dan Perikanan, Widi Agoes Pratikto, usai Pembukaan Konferensi Internasional Perairan Pedalaman Indonesia 2008 di Hotel Arya Duta Palembang, Senin (17/11). Menurut Widi, saat ini banyak danau yang pada waktu hujan tidak bisa menjadi reservoir (tempat penyimpan air).
"Justru danau tersebut memberikan limpahan banjir. Sementara pada saat surut atau kemarau, danau tidak dapat menjadi tempat bekerja karena terisi lumpur atau sedimentasi. Danau yang rusak kurang lebih 10 yang besar," ujarnya.
Menurut Widi, penyebab kerusakan danau yaitu pengundulan hutan. Selain itu, akibat ditebanginya mangrove atau pepohonan di sekitar area tangkapan. Penebangan mangrove mengakibatkan lumpur mengalir ke danau, sehingga menimbulkan sedimentasi. Persoalan sedimentasi tersebut, ditemukan di hampir semua tempat.
Masih menurut Widi, departemen kelautan tidak dapat menyelesaikan sendiri persoalan itu, tetapi harus bekerja sama dengan direktorat sumber daya air. "Selain itu, ia juga mengimbau pemerintah daerah agar terlibat dalam penanganan danau. Regional harus digalakkan, tidak bisa semua tergantung pusat," katanya.
Ia berharap, Konferensi Internasional Perairan Pedalaman Indonesia 2008 yang dilaksanakan selama dua hari tersebut akan merumuskan konservasi, tidak hanya habitat hidup, tetapi juga sungai dan perairan lainnya.
Jawa dan Sumatera
Kepala Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Ali Suman mengatakan, selain 10 danau yang mengalami rusak total, terdapat danau-danau lain yang menurun fungsinya. Danau-danau yang rusak total terdapat di Jawa dan Sumatera.
Menurut dia, kerusakan danau juga mengakibatkan penurunan populasi ikan. Saat ini, populasi ikan di 10 danau tersebut hanya tinggal 10 persen dari yang seharusnya. Untuk memperbaiki ekosistem ikan, diperkirakan membutuhkan waktu sekitar lima tahun.
Sumber : kompas
Selengkapnya...
17 November 2008
Siklus Tsunami di Indonesia Dua Tahunan
Tsunami di Indonesia memiliki pola pengulangan menarik, rata-rata terjadi dalam kurun waktu dua tahunan berdasarkan pola kejadian-kejadian tsunami dalam rentang waktu 400 tahun terakhir.
"Dari 217 kejadian tsunami yang tercatat sejak 1608 hingga sekarang, dapat ditarik sebuah pola terutama 15 tahun terakhir yaitu terjadi tsunami dua tahun sekali di Indonesia," kata peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, dalam workshop tsunami di Yogyakarta, Sabtu (15/11).
Menurut Eko, 91 persen tsunami di Indonesia dipicu oleh gempa bumi dasar laut dan hanya 9 persen dipicu oleh letusan gunung api. Meski kejadian tsunami memiliki pola pengulangan statistik tertentu, namun peneliti tidak dapat memastikan tempat dan besar tsunami yang akan terjadi.
Pada 1987 terjadi tsunami di NTT, Flores Timur dan Pulau Antar dengan korban 83 orang meninggal dunia, dua tahun kemudian kembali terjadi tsunami di NTT dan Pulau Alor, kali ini memakan korban tujuh orang meninggal dunia. Pada 1992, NTT kembali diterjang tsunami, lalu Banyuwangi pada 1994, tahun 1996 di Palu dan Biak, di Maluku pada 1998, tahun 2000 di Banggai, 2004 terjadi tsunami besar di Aceh, Pangandaran pada 2006 dan akhirnya Bengkulu pada 2007.
Catatan-catatan terjadinya tsunami itu menunjukkan Indonesia adalah daerah yang rawan tsunami, namun tidak banyak peneliti dan hasil penelitian mengenai tsunami di tanah air. "Kondisi ini sangat ironis, sehingga ketika ada kejadian tsunami, Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar," katanya.
Ia menunjuk tsunami besar di Aceh pada 2004 dan tsunami akibat Krakatau meletus pada 1883 sebagai dua dari 59 tsunami besar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.
Di kedua bencana itu, Indonesia menderita korban terbanyak, masing-masing 300 ribu orang meninggal di Aceh dan 40 ribu orang meninggal saat tsunami Krakatau.
Sumber : Suara Merdeka (15 November 2008)
Selengkapnya...
04 November 2008
Banjir Kiriman Genangi Jakarta
Jakarta (ANTARA News) - Banjir kiriman mulai menggenangi sebagian Jakarta sejak beberapa hari yang lalu.
Setelah Jakarta Timur tergenang banjir kiriman pada Minggu (2/11), giliran dua kelurahan di Jakarta Selatan yang terendam pada Senin (3/11).
Data Satkorlak PBP mencatat sebanyak 24 RT di Kelurahan Bukit Duri dan Kebon Baru tergenang banjir dengan ketinggian 10-40 sentimeter.
Tiga RW di Kelurahan Bukit Duri terendam air setinggi 10-20 sentimeter sejak pukul 03.00 WIB namun mulai susut ketika sore hari.
Sedangkan di Kelurahan Kebon Baru ada tiga RT yakni RT 09, 10 dan 17 yang genangan airnya cukup tinggi mulai dari 25-40 sentimeter.
Satkorlak telah menentukan lokasi pengungsian dan menyiapkan pos kesehatan dan dapur umum meskipun menyatakan belum ada pengungsi akibat banjir kiriman tersebut.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan bahwa Jakarta telah siap untuk menghadapi bencana banjir tahunan.
Gubernur memaparkan bahwa Pemprov DKI telah melaksanakan program pengendalian banjir dan telah melakukan pengecekan sarana dan prasarana yg dibutuhkan,
"Kita juga sudah mlakukan gladi bersih. Saya kira kita siap untuk menghadapi (banjir) itu," katanya.
Meskipun demikian, Gubernur menyebut persiapan itu belum ideal dalam artian belum bisa mengatasi banjir secara keseluruhan.
"Tapi sekali lagi, `benchmark` kegiatan itu jangan diharapkan bisa 100 persen ideal karena yang dilakukan baru sampai disitu, belum selesai. Dalam arti belum bisa mengatasi banjir secara keseluruhan," paparnya.
Namun Gubernur menyebut bahwa penanganan banjir akan dilakukan secara konsisten.
Ia mencontohkan Waduk Sunter 1B yang susah dibebaskan tanahnya akan dicoba diganti di lahan lain dengan luas yang sama.
"Kita cari ada gak lahan lain supaya pola dasar
pengendalian banjir itu secara konsisten bisa dikerjakan," ujarnya.
Selengkapnya...
Terumbu Karang Sumatera Barat Rusak Parah
PADANG, SENIN - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Yosmeri Yusuf, mengemukakan dari 5.000 kilometer persegi kawasan terumbu karang yang ada di Sumbar, seluas 3500 kilometer persegi rusak berat.
"Kerusakan itu karena ulah oknum manusia yang hanya memikirkan keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan kerugian atas tindakan pengrusakan," ujar Yosmeri, di Padang, Senin (3/11).
T
erumbu karang sangat berguna melindungi pantai dari abrasi air laut. Terumbu karang juga bermanfaat bagi ikan laut karena menjadi tempat sumber makanan dan tempat untuk berkembang biak.
"Jika terumbu itu rusak, dipastikan potensi ikan laut Sumbar juga menyusut," ujarnya. Di seantero Sumbar, hanya satu dari tujuh kawasan terumbu karang yang kondisinya cukup baik, yakni terumbu karang di Pesisir Selatan.
Terumbu karang hancur oleh bom ikan, racun potasium maupun pencemaran dan sedimentasi. Untuk merehabilitasi kondisi terumbu karang dibutuhkan waktu puluhan tahun, kata ujar Yosmeri.
Sementara terkait perangkat undang-undang, Yosmeri mengatakan, memang sudah ada undang-undang seperti UU 31 tahun 2004 tentang Perikanan dan UU 7 tahun 2007 tentang Kawasan Pesisir. Tapi, saat diterapkan masih banyak menemui hambatan non teknis.
"Ke depan kita akan mengusulkan ke DPRD untuk membuat Perda terumbu karang, sehingga ada kepastian hukum yang jelas untuk mengantisipasi hancurnya terumbu karang Sumbar, " katanya.
ketua Forum Wartawan Terumbu Karang Sumbar, Nofrianto, meyakini Perda terumbu karang merupakan jalan terbaik untuk menyelamatkan terumbu karang di Sumbar. "Tanpa ada payung hukum yang punya karakteristik daerah seperti perda, maka agenda pelestarian terumbu karang di Sumbar sulit diwujudkan," ujarnya.
Sumber : kompas
Selengkapnya...
Indonesia Pusat Terumbu Karang Dunia
Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terutama terumbu karang terletak di kawasan segitiga karang. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 Km2.
Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 51.000 Km2 yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle. Saat ini, kepulauan Raja Ampat di Papua Barat merupakan kepulauan dengan jumlah jenis terumbu karang tertinggi di dunia. Berdasarkan sebuah kajian ekologi yang dipimpin oleh The Nature Conservancy (TNC) dengan melibatkan para ahli terumbu karang dan ikan dunia pada tahun 2002, ditemukan sekitar 537 jenis karang dan 1074 jenis ikan di kepulauan Raja Ampat.
Manfaat
Jumlah jenis terumbu karang di Raja Ampat tersebut merupakan 75% dari seluruh jenis terumbu karang dunia yang pernah ditemukan. Walaupun kepulauan Carribean di Amerika tengah dan Great Barrier Reef Marine Park di Australia sangat terkenal, kedua kawasan tersebut hanya memiliki sekitar 400 jenis karang.
Beberapa kepulauan di Indonesia yang juga memiliki jenis karang cukup tinggi adalah Nusa Penida (Bali) , Komodo (NTT), Bunaken (Sulut), Kepulauan Derawan (Kaltim), Kepulauan Wakatobi (Sultra), dan Teluk Cendrawasih (Papua). Kepulauan tersebut juga merupakan tujuan utama wisata bahari, khususnya wisata selam dunia.
Manfaat terumbu karang bagi manusia selain aset wisata bahari adalah sebagai benteng alami pantai dari gempuran ombak dan sumber makanan dan obat-obatan, Sekitar 120 juta orang hidupnya sangat bergantung pada terumbu karang di coral triangle.
Melihat fungsi penting terumbu karang bagi kehidupan manusia, maka pada pertemuan APEC di Sydney tahun 2007, Presiden Republik Indonesia – Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan perlindungan terhadap terumbu karang di kawasan segitiga karang dunia bersama 6 negara coral triangle lainnya (CT6). Inisiative CT6 untuk melindungi terumbu karang di coral triangle disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Inisiative ini mendapat banyak dukungan dari negara maju seperti Amerika dan Australia.
Selengkapnya...
01 November 2008
Peta Global Dampak Aktivitas Manusia pada Ekosistem Laut
Pada masa-masa kini, laut-laut di Indonesia berada pada fase yang berbahaya. Ombak-ombak tinggi dan angin yang kencang menyebabkan kegiatan pelayaran dan kehidupan tepi laut terganggu, terutama bagi nelayan yang menggantungkan kehidupannya pada hasil laut. Apakah ini berkait dengan pemanasan global? Laporan dari IPCC menyatakan bahwa itu ada kaitannya. Tapi, hal itu tidak akan dibahas di sini, untuk saat ini.
Kehidupan manusia bergantung pada ekosistem laut, langsung atau tidak langsung. Makanan laut, garam, wisata laut hanyalah contoh dari kebergantungan manusia pada laut. Studi terkini menunjukkan bahwa kegiatan manusia pun memengaruhi laut, langsung maupun tidak langsung. Aktivitas daratan mendorong polutan dan sumber gizi menuju tepian pantai, mengakibatkan menghilangnya habitat, bahkan mengubah dan menghancurkan habitat alamiah. Aktivitas di laut pun mengambil sumber alam, menambah polusi, dan mengubah komposisi spesies.
Aktivitas manusia sangat bervariasi dalam tingkat kegiatan dan dampaknya pada kondisi ekologi dan masyarakat, serta distribusinya sangat menyebar di berbagai wilayah laut. Oleh karena itu, studi tentang keterkaitan kegiatan manusia dan pengaruhnya pada laut sangat perlu dilakukan. Studi terkini dari National Center for Ecological Analysis and Synthesis (NCEAS) menunjukkan bahwa dampak aktivitas manusia pada lautan berlaku secara global (Gb.1), 41% berdampak menengah tinggi, dan 0.5% berdampak sangat tinggi. Tetapi, jumlah sekecil itu mencakup wilayah yang sangat luas (~2.2 juta km2). Daerah yang berdampak kecil, atau tidak berdampak merupakan daerah yang jauh dari aktivitas manusia, seperti pada daerah kutub.
Kebanyakan dampak yang muncul (Gb.2) merupakan akibat dari kegiatan manusia, baik darat maupun laut. Daerah yang mengalaminya adalah bagian utara dekat lautan Norwegia, sekitar laut Cina daerah tenggara, Karibia timur, tepi timur Amerika Utara, Laut Tengah, Teluk Persia, Laut Bering, dan perairan sekitar Srilangka. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah patahan dan pertemuan benua (continental shelf and slope). Gambar 2 menunjukkan bahwa dampak akibat perbuatan manusia berkaitan dengan perubahan iklim global yang distribusi secara luas, terutama pada ekosistem tepi laut. Yang pasti, terlihat bahwa dampak terbesar adalah meningkatnya temperatur air laut.Jika kemudian ekosistem laut menjadi berubah, dan tidak lagi memberikan manfaat bagi manusia, maka yang terjadi adalah bencana dari laut. Masih banyak studi yang harus dilakukan, untuk melihat setiap detail dari hubungan manusia dengan ekosistem laut. Tetapi ,sudah waktunya untuk memikirkan perlindungan pada alam lingkungan kita, dan melakukan pemberdayaan secara tepat sehingga bisa mengurangi dampak ekologi sekaligus mempertahankan kemanfaatan laut bagi manusia. Apalagi, Indonesia merupakan negara maritim.
Sumber :http://langitselatan.com/2008/02/19/peta-global-dampak-aktivitas-manusia-pada-ekosistem-laut/
Disadur dari laporan pada Majalah Sicence, 15 Februari 2008.
Selengkapnya...
30 Oktober 2008
216 Kota Tepian Air dalam Bahaya Iklim Terburuk di Tahun 2012
Oleh : Munandar
KabarIndonesia - Sepatutnya kita merenung, berfikir, dan mengkaji: kenapa alam jadi kronis, hancur berantakan. Manusia mengeksploitasi alam dengan rakus dan tamak, bak harta warisan nenek moyangnya.
Ulah manusia, aktivitas manusia, keserakahan manusia, dan kebodohan manusia membuat alam nirwana menjadi neraka. Kezaliman (oknum) manusia yang berideologi kapitalis, komunis, maupun agamis, telah memborbardir bumi di barat, timur, utara, dan di selatan,. Sama saja, sama-sama tidak berbudi terhadap alam.
Selain itu, ada pula satu jenis gas buatan tangan manusia yang didaulat membuat nyaman ummat, namun setelah diproduksi besar-besaran dan menguntungkan negara industri, ternyata membuat petaka.
Gas chlorofluorocarbons (CFC) namanya, menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2, penyebab rusaknya lapisan ozon. Lalu tiba-tiba para pemimpin dunia dan para ahli kaget, karena Dr. H. J. Zwally, seorang ahli iklim NASA membuat prediksi baru yang sangat mencengangkan: Hampir semua es di Kutub Utara akan lenyap pada akhir musim panas 2012. Artinya dunia bakal kiamat. Nah lho.
Prediksi yang amat buram
Bumi dipijak rasa beban, langit dijunjung rasa runtuh alias dunia seperti kiamat. Bagaimana tidak. Pasalnya, mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model-model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan sebelumnya. Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100.
Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya. Para ilmuwan mengakui bahwa ada faktor-faktor kunci yang tidak mereka ikutkan dalam model prediksi yang ada. Dengan menggunakan data es terbaru, serta model prediksi yang lebih akurat, seorang Zwally, telah menggemparkan dunia.
Biang Keladi: CFC dan gas rumah kaca Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah "gas rumah kaca".
Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya, agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat. Dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik, karena memiliki panas matahari yang cukup.
Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -320 Celcius.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC).
Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini, karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda. Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metan menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2.
Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
Pertanyaan kita, apakah kaum industrialis yang memproduksi CFC ikut menanggung beban kehancuran bumi? Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan punya efek domino yang mengerikan.
Siapa yang seharusnya paling bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global ini? Hingga saat ini negara-negara maju masih mendominasi emisi karbon, meski penduduk mereka hanya 15% dari penduduk dunia.
Amerika Serikat, misalnya, meskipun pangsanya terhadap dunia secara persentase menurun, secara absolut sebenarnya terjadi peningkatan 25%. Lihat juga Rusia, Jepang, Jerman, Kanada, dan Inggris. Mereka memiliki emisi karbon/kapita yang jauh di atas negara-negara dunia ketiga. Untuk dunia ketiga memang Cina dan India masih dominan.
Kenaikan tertinggi terjadi di Cina, yang dalam kurun waktu 1990-2004 naik dari 2399 metrik ton menjadi 5007 metrik ton atau naik 109%. Emisi karbon perkapitanya 3.8 ton karbon/kapita. Begitu pula India, kurun 1990-2004 secara absolut terjadi kenaikan sebesar 97%, meski pangsanya terhadap dunia hanya naik sekitar 25%. Mengingat jumlah penduduknya yang tinggi, menyebabkan emisi karbon kapita hanya 1.2 ton karbon/kapita tahun 2004. Sementara itu, Indonesia hanya kontribusi 1.3% tahun 2004.
Defakto 1: melelehnya es di dua kutub bumi
Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh.
Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar 1.609 kilometer selatan Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal, diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. "Ini akibat pemanasan global," ujar ketua peneliti NSIDC Ted Scambos.
Menurutnya, lempengan es yang disebut Wilkins Ice Shelf itu sangat jarang runtuh. Sekarang, setelah adanya perpecahan itu, bongkahan es yang tersisa tinggal 12.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan menghubungkan dua pulau. "Sedikit lagi, bongkahan es terakhir ini bisa turut amblas. Dan, separo total area es bakal hilang dalam beberapa tahun mendatang," ujar Scambos.
Pemanasan Global berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta ton. Volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya!
Defakto 2: meningkatnya level paras laut dan dampaknya di Indonesia
Mencairnya es di kutub utara dan kutub selatan berdampak langsung pada naiknya level permukaan air laut (grafik di samping menunjukkan hasil pengukuran level permukaan air laut selama beberapa tahun terakhir). Para ahli memperkirakan apabila seluruh Greenland mencair. Level permukaan laut akan naik sampai dengan 7 meter! Cukup untuk menenggelamkan seluruh pantai, pelabuhan, dan dataran rendah di seluruh dunia.
Bagaimana dengan Indonesia? Kita perlu waspada, karena berdasarkan data Kementerian Pemukiman dan Wilayah dari 516 kota diselurah Indonesia 216 diantaranya merupakan kota tepian air (water-front city) yang berada ditepi laut, sungai dan danau, bahkan banyak kota-kota di Indonesia yang berakar dari aktivitas perdagangannya di atas air seperti kota-kota di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Hilangnya pulau-pulau kecil merupakan ancaman langsung, tidak saja berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi dan ekosistem juga terhadap geopolitik kita, mengingat pulau terluar merupakan pijakan penting dalam menentukan batas wilayah dengan negara lain. Selain kenaikan permukaan air laut, peningkatan suhu air laut juga akan berdampak pada keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dan laut.
Secara umum dengan meningkatnya suhu sebesar 1.5-2.50 celcius, maka 20-30% species tumbuhan dan hewan terancam. Untuk ekosistem pesisir dan laut, terumbu karang dan mangrove kini mulai terancam. Akibat El-Nino tahun 1998 saja sekitar 16% karang dunia rusak, antara lain berupa pemutihan (bleaching).
Kini, Indonesia memiliki 50 ribu km2 terumbu karang atau sekitar 18% dari luasan terumbu karang dunia. Namun demikian kerusakan terumbu karang di Indonesia tidak hanya karena faktor iklim, tetapi juga karena pengaruh ulah manusia (antropogenik) baik melalui praktek pengeboman maupun sedimentasi, dan seterusnya.
Berdasarkan Status Lingkungan Hidup Indonesia (2005), kita memiliki 590 spesies terumbu karang. Dengan terumbu karang seluas 50 ribu km2, sekitar 5.83% sangat baik, 25% baik, 36.59% sedang, dan 31.29% rusak. Rusaknya terumbu karang tersebut akan sangat mengganggu kegiatan sosial ekonomi masyarakat, mengingat terumbu karang memiliki fungsi sebagai tempat pemijahan dan bertelur, sehingga sangat mempengaruhi stok ikan.
Bayangkan, sekitar 30 juta nelayan di dunia tergantung pada ikan-ikan karang. Dan, setengah kebutuhan protein dan kandungan gizi untuk 400 juta orang miskin di dunia disuplai dari ikan (UNDP, 2007). Belum lagi nilai ekonomi untuk wisata bahari.
Kenaikan permukaan air laut juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Pada tahun 1990-an luas mangrove kita 9.2 juta hektar, dan tingkat kerusakan 57.6%. Rusaknya mangrove akan berdampak pada abrasi pantai karena tidak adanya penahan gelombang.
Begitu pula pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya penyaring polutan, dan berbagai spesies juga hilang. Serta, kegiatan budidaya perikanan tradisional akan terancam dengan sendirinya. Kejadian banjir sepanjang jalan tol bandara beberapa waktu lalu adalah bukti kerugian akibat rusaknya mangrove di pesisir utara Jakarta.
Studi kasus di pulau Jawa.
Sedikitnya ada 63 kabupaten atau kota berada di sepanjang pantai utara dan selatan Pulau Jawa. Jumlah penduduk yang tinggal di sepanjang pesisir Jawa tidak kurang dari 74,9 juta jiwa, atau sekitar 65 persen dari total penduduk Pulau Jawa. Mereka kini terancam banjir rob, erosi, dan intrusi air laut yang bisa muncul sewaktu-waktu.
Padatnya penduduk itu tidak lepas dari tren pertumbuhan penduduk pesisir Pulau Jawa di era tahun 1990-an hingga 2000-an, terjadi peningkatan sekitar 2,2 persen, atau lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk rata-rata nasional. Contoh yang terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Pemerintah Kota Semarang membuat daerah tangkapan air di tengah kota yang ternyata hanya bertahan beberapa bulan.
Sedangkan di Jakarta terjadi reklamasi dan pengurukan besar-besaran di kawasan resapan air, yang mengakibatkan banjir rob. Pasang air laut yang menyebabkan banjir rob tingginya bisa mencapai 2-4 meter. Jika peristiwa tersebut dibarengi dengan angin besar (badai), maka potensi terjadi banjir akan lebih besar. Apalagi jika terjadi hujan lebat yang berlangsung lama di daerah hulu.
Hasil analisis beberapa stasiun pasang surut di sejumlah daerah, antara lain Jepara, Jakarta, Batam, Biak, Ambon, dan Kupang selama sembilan tahun, menunjukkan rata-rata muka air laut (sea level rise/SLR) di kawasan tersebut naik sekitar 1-10 mili-meter (mm) per tahun.
SLR mengakibatkan berubahnya fisik lingkungan. SLR, dapat menimbulkan genangan di lahan rendah dan rawa, abrasi, intrusi air laut ke sungai dan air tanah, kenaikan muka air sungai sehingga garis pantai mundur, perubahan pasang surut dan gelombang, serta perubahan endapan sedimen. SLR juga dapat merusak terumbu karang.
Studi kasus di Jakarta.
Pendapat ahli perubahan iklim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Armi Susandi tampaknya bisa membuktikan. Dia meramalkan pada 2050 nanti, 24 persen wilayah Jakarta akan terendam air laut secara permanen. Ramalan Doktor lulusan University of Hamburg itu merupakan buah penelitannya yang dilakukan sejak 2005 di Jakarta, khusus meneliti pengaruh perubahan iklim terhadap ibukota.
Dia melakukan penelitian mengenai pengaruh perubahan iklim di Jakarta dengan menghitung laju kenaikan temperatur di Jakarta dan kenaikan muka air laut. Dosen yang merampungkan tesisnya mengenai perubahan iklim di Max Planck Institute of Meteorology itu, membuat satu model digital yang dapat menyajikan gambar tiga dimensi dari pengaruh penurunan muka air tanah dengan laju kenaikan muka air laut.
Dengan model buatannya itu, Armi meramalkan banjir permanen yang akan mengurangi luas wilayah geografis Jakarta dalam jangka panjang. Armi merancang modelnya itu dengan memasukkan faktor penurunan muka air tanah. Penurunan muka air tanah yang terjadi di Jakarta sudah mencapai angka 0,85 centimeter per tahun. Faktor penyebabnya, penggunaan air tanah oleh warga Jakarta dan maraknya pembangunan gedung pencakar langit di ibukota.
Bandara Soekarno-Hatta akan hilang.
Penurunan tanah di Jakarta sudah terasa akibatnya. Menurutnya, sekitar 40 persen wilayah Jakarta sekarang ini lebih rendah dari permukaan laut. "Kebetulan kawasan itu berada di bagian utara Jakarta," katanya.
Wilayah itu, tambahnya, kini terancam oleh banjir menahun akibat pasang surut air laut. Sementara kenaikan muka air laut dihitungnya dari mengolah data pencatatan periode ulang pasang surut air laut selama 17,8 tahun. Tren kenaikan muka air laut di wilayah Jakarta mencapai 0,57 centimeter per tahun. Hasilnya mencengangkan. Ternyata laju kenaikan penurunan tanah di Jakarta lebih tinggi dibandingkan dengan naiknya muka air laut.
Peneliti Indonesia yang menjadi salah satu pembicara kunci dalam pertemuan internasional mengenai Global Climate Change di Bali itu, memperlihatkan hasil estimasi banjir permanen yang akan terjadi pada 2050 nanti di wilayah Jakarta.
Air laut secara permanen akan masuk ke dalam wilayah Jakarta sampai sejauh 8 kilometer. Untuk daerah yang rendah nggak bisa diselamatkan lagi. Banjir permanen itu akan merendam wilayah di antaranya Tanjung Priok, Bandara Soekarno-Hatta, Pademangan, Koja, Cilincing, hingga masuk ke Penjaringan.
Armi juga memprediksi 24 persen wilayah di utara Jakarta, (banjir permanen) masuk sampai merendam ke jalan tol di Penjaringan, Tanjung Priok tidak berfungsi lagi, Bandara Soekarno-Hatta pun akan mulai hilang tahun 2035. Itu musibah yang terjadi, andai semua ramalan dari hasil penelitian Armi benar.
Kerugian lainnya yang didera Indonesia
* Kenaikan muka air laut secara umum akan mengakibatkan dampak sebagai berikut : (a) meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir, (b) perubahan arus laut dan meluasnya kerusakan mangrove, (c) meluasnya intrusi air laut, (d) ancaman terhadap kegiatan sosial-ekonomi masyarakat pesisir, dan (e) berkurangnya luas daratan atau hilangnya pulau-pulau kecil.
* Meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir disebabkan oleh terjadinya pola hujan yang acak dan musim hujan yang pendek sementara curah hujan sangat tinggi (kejadian ekstrim). Kemungkinan lainnya adalah akibat terjadinya efek backwater dari wilayah pesisir ke darat. Frekuensi dan intensitas banjir diprediksikan terjadi 9 kali lebih besar pada dekade mendatang dimana 80% peningkatan banjir tersebut terjadi di Asia Selatan dan Tenggara (termasuk Indonesia) dengan luas genangan banjir mencapai 2 juta mil persegi.[1] Peningkatan volume air pada kawasan pesisir akan memberikan efek akumulatif apabila kenaikan muka air laut serta peningkatan frekuensi dan intensitas hujan terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan.
* Kenaikan muka air laut selain mengakibatkan perubahan arus laut pada wilayah pesisir juga mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove, yang pada saat ini saja kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia terus mengalami penurunan dari 5.209.543 ha (1982) menurun menjadi 3.235.700 ha (1987) dan menurun lagi hingga 2.496.185 ha (1993). Dalam kurun waktu 10 tahun (1982-1993), telah terjadi penurunan hutan mangrove ± 50% dari total luasan semula. Apabila keberadaan mangrove tidak dapat dipertahankan lagi, maka : abrasi pantai akan kerap terjadi karena tidak adanya penahan gelombang, pencemaran dari sungai ke laut akan meningkat karena tidak adanya filter polutan, dan zona budidaya aquaculture pun akan terancam dengan sendirinya.
* Meluasnya intrusi air laut selain diakibatkan oleh terjadinya kenaikan muka air laut juga dipicu oleh terjadinya land subsidence akibat penghisapan air tanah secara berlebihan. Sebagai contoh, diperkirakan pada periode antara 2050 hingga 2070, maka intrusi air laut akan mencakup 50% dari luas wilayah Jakarta Utara.
* Gangguan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang terjadi diantaranya adalah: (a) gangguan terhadap jaringan jalan lintas dan kereta api di Pantura Jawa dan Timur-Selatan Sumatera; (b) genangan terhadap permukiman penduduk pada kota-kota pesisir yang berada pada wilayah Pantura Jawa, Sumatera bagian Timur, Kalimantan bagian Selatan, Sulawesi bagian Barat Daya, dan beberapa spot pesisir di Papua; (c) hilangnya lahan-lahan budidaya seperti sawah, payau, kolam ikan, dan mangrove seluas 3,4 juta hektar atau setara dengan US$ 11,307 juta; gambaran ini bahkan menjadi lebih ‘buram' apabila dikaitkan dengan keberadaan sentra-sentra produksi pangan yang hanya berkisar 4 % saja dari keseluruhan luas wilayah nasional,[2] dan (d) penurunan produktivitas lahan pada sentra-sentra pangan, seperti di DAS Citarum, Brantas, dan Saddang yang sangat krusial bagi kelangsungan swasembada pangan di Indonesia[3].
Untung ada Dr. Zwally, ahli iklim NASA membuat prediksi baru yang sangat mencengangkan: Hampir semua es di kutub utara akan lenyap pada akhir musim panas 2012! Statement-nya diamini oleh banyak ilmuwan dunia yang pro Algore. Prakiraan Zwally setinggi ilmu bak seorang wali (songo) yang membuat shok terapi. Alam terkembang (tak) jadi guru. Kita harus kembali ke khitah, belajar dari alam dan apa yang terjadi didalamnya. Alam sudah krusial, ayoo belajar hidup harmoni dengan bencana! Living harmony with disaster.
Sumber : Munandar (kabarindonesia.com)
Selengkapnya...
25 Juli 2008
Waspadai Pergeseran Lempeng Indo-Australia dan Eurasia
Yogyakarta (ANTARA News) - Pergeseran lempeng Indo-Australia dan Eurasia tetap perlu diwaspadai, apalagi terkait dengan dua gempa terakhir yang terjadi pada 12 dan 20 Juli 2008 dengan pusat gempa di dalam laut di Samudera Hindia.
"Meski pusat gempa berada jauh di tengah samudera, namun dua gempa terakhir, 12 dan 20 Juli patut dicermati meskipun tidak berpotensi menimbulkan tsunami," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, Tiar Prasetya, Minggu.
Pada 12 Juli pukul 17.34 WIB terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 5,0 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Kabupaten Bantul dan sebagian Kota Yogyakarta.
Pusat gempa di laut pada kedalaman 20 km, dan berada di posisi 8,96 Lintang Selatan (LS) - 110,45 Bujur Timur (BT) atau sekitar 112 km ke arah Barat Daya dari kota Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), atau 130 km ke arah Tenggara dari Kota Yogyakarta. Gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Kemudian Minggu, 20 Juli pukul 13.11 WIB gempa bumi berkekuatan 5,9 SR mengguncang wilayah DIY, Jawa Tengah dan sebagian wilayah Jawa Timur.
Pusat gempa di laut dengan kedalaman 10 km. Posisinya pada 9 LS - 111.24 BT, atau berada di 135 km Tenggara Wonosari (DIY), atau 145 km Barat Daya Blitar (Jawa Timur), 155 km Barat Daya Madiun (Jawa Timur), atau 157 km Tenggara Bantul (DIY). Gempa tersebut juga tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Ia mengatakan aktivitas dari pergeseran lempeng Indo-Australia dan Eurasia selama ini memberikan pengaruh yang signifikan pada gempa yang berpusat di laut yang terjadi di kawasan Aceh hingga Nias, Pangandaran sampai Banyuwangi, dan Bali.
"Apabila gempa di laut di kawasan tersebut kekuatannya di atas 6,5 skala Richter, harus diwaspadai karena bisa menimbulkan tsunami," katanya.(*)
sumber : antara
Selengkapnya...
26 April 2008
Bunaken Penuh Sampah
Manado (ANTARA News) - World Wide Fund For Nature (WWF) atau Organisasi Konservasi Global wilayah Indonesia, mengaku prihatin kondisi Taman Nasional Laut (TNL) Bunaken di Sulawesi Utara (Sulut), yang penuh sampah, padahal wilayah konservasi laut tersebut merupakan terbaik di dunia.
Direktur Marine WWF Indonesia, Wawan, Sabtu di Manado, mengatakan, penyelamatan TNL Bunaken perlu kesadaran tinggi masyarakat, karena akan menjadi ancaman lingkungan dimasa mendatang jika tidak diantisipasi sejak sekarang.
TNL Bunaken merupakan wilayah konservasi yang dilindungi negara, karena memiliki jutaan biota dan ekosistem terbaik di dunia, sehingga perlu ditangani secara komprehensif.
TNL Bunaken tidak sekedar menjadi objek wisata yang mendatangkan devisa, tetapi wilayah dilindungi itu perlu dijaga untuk penyelamatan lingkungan laut, katanya, usai beraudiens dengan Gubernur Sulut, SH Sarundajang.
Banyaknya sampah didaerah itu karena pemerintah daerah tidak menciptakan pemetaan laut dari "serangan" sampah organik dan non organik, sehingga beberapa muara sungai yang masuk ke TNL Bunaken menjadi rusak.
Gubernur Sulut mengaku TNL Bunaken bergelut dengan persoalan cukup lama, yakni sampah akibat keserakahan manusia.
Pemprop Sulut akan berbicara dengan DPRD setempat, membahas anggaran khusus untuk penanganan sampah di Bunaken, dengan menghadirkan berbagai teknologi yang menghadang giringan sampah ke taman laut itu.
Asisten II bidang Perekonomian dan Pembangunan Pemprop Sulut, Marietha Kuntag mengatakan, TNL Bunaken, perlu dibenahi kembali, baik infrastruktur penunjang objek wisata, masalah sampah serta sistem promosi digiatkan terus.
Banyak masalah yang selalu dialami objek wisata TNL Bunaken, sehingga perlu diperhatikan serius semua stakeholder, agar tidak memberi dampak buruk bagi lokasi itu, kata Kuntag.
Kemudian pelaksanaan World Ocean Conference (WOC) atau Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang laut, yang akan digelar di Kota Manado pada tahun 2009 mendatang, dengan tujuan akhir akan melihat objek wisata TNL Bunaken yang memiliki sejuta biota laut terbaik di dunia.
Selengkapnya...

