Tampilkan postingan dengan label inovasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inovasi. Tampilkan semua postingan

31 Juli 2009

Daur Ulang 1 Ponsel Kurangi 12.000 Kg Emisi CO2

Nokia mengajak masyarakat Indonesia untuk turut serta menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan secara global. Produsen ponsel terbesar di dunia itu telah memulai program tersebut dengan mengajak masyarakat untuk memiliki tanggung jawab pribadi akan daur ulang ponsel, dengan memberikan ponsel dan aksesoris mereka yang sudah tidak terpakai.

"Sebuah survei secara global telah dilakukan oleh Nokia yang menunjukkan bahwa tiga dari empat orang tidak pernah berpikir untuk mendaur ulang ponsel bekas mereka, dan bahkan mereka tidak menyadari bahwa ponsel dan aksesoris bekas dapat didaur ulang," kata Nokia Regional Manager, Market Environmental Affairs, Francis Cheong pada acara Media Workshop 'Let's Manage Our e-waste' di Jakarta, Kamis (30/7/2009).

Ia mencontohkan, sebuah ponsel bekas yang telah didaur ulang dapat mengurangi emisi gas karbondioksida sebesar 12.585 kg. Jika semua orang yang memiliki ponsel di seluruh dunia ini, yakni sebesar tiga miliar, dan paling tidak hanya satu saja dari mereka yang mendaur ulang ponselnya, maka akan mengurangi bahan baku sebanyak 240.000 ton serta mengurangi gas rumah kaca yang setara dengan 4 juta kendaraan bermotor.

"Gerakan daur ulang e-waste secara global dimulai dari kesadaran diri sendiri dan partisipasi yang akan menghasilkan kontribusi signifikan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan secara jangka panjang," Francis menambahkan.

Nokia telah memulai program daur ulang ini di tahun 1997 di Swedia dan Inggris. Sejak saat itu, Nokia telah memiliki lebih dari 5.000 titik penempatan box daur ulang ponsel dan aksesoris di 85 negara seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Untuk wilayah Indonesia Nokia bekerja sama dengan TES-AMM, sebuah perusahaan daur ulang e-waste, untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam program daur ulang e-waste dengan memberikan ponsel dan aksesoris bekas mereka untuk didaur ulang.

Menurut Technical Advisor TES-AMM Bambang N Gyat, sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik di case atau cover, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang.

"Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui bahwa produk-produk yang kita gunakan setiap hari dapat diproduksi dari bahan-bahan yang telah melalui proses daur ulang. Di samping memaksimalkan sumber daya melalui daur ulang e-waste, kita juga dapat turut menghemat energi," kata Bambang. (okezone.com)
Selengkapnya...

29 April 2009

SILVOFISHERY : MODEL OF CLIMATE CHANGE MITIGATION AND INCREASE LOCAL SOCIETY INCOME IN ARCHIPELAGO COUNTRIES

By : Saevul Amri

Climate change is being occur in this world. There are many way to reduce negative impact of climate change. Such plant as the biggest greenhouse gas sequestration, but illegal logging is one of the main crime in many countries. The crime has been doing in all the forest type, include mangrove. Mangrove can be used to alternative solution to address climate change for the lower coastal area in Archipelago countries and other countries whose a coastal line. The real action that we have to do is mangrove reforestation. For the sustainable program, we need real evident and advantage from mangrove to the local society.

The solution that I order is silvofishery, that is a model to evolve the ecofriendly dike which combine between plant (sylvo) and fishery. This program can be applicated as empang parit system and empang inti system. Empang parit system represented by mangrove forest in the centre and arounded by dike. Empang inti system is opposite of the empang parit one. Silvofishery system give huge advantage such us dike construction will be steady because any mangrove roots and the quality of water dike will be better because the root function to screen waste doing perfectly. This system also help the organic material decompotition because any microbia on the floor mangrove (debris) and the fallen leaves whose alelopaty can decrease fish patogent. Instead of that, silvofishery system can avoid sea water intrution, it is can be as greenbelt in the seashore, and of course support mitigation program for the climate change because mangrove can be carbondioxide sequestration from atmosphere. So that, local society will participate actively to maintain mangrove forest and also do the mitigation of climate change.

Selengkapnya...

12 Desember 2008

SELAMAT

SELAMAT ATAS PRESTASI YANG TELAH DIUKIR
OLEH BADAN PENGURUS PUSAT IKAHIMBI PERIODE 2007-2009

1. Slamet (Mamet) : Wasekjen III (UPI Bandung)
Best Personal Duta Lingkungan Ikahimbi tahun 2008 dan
Juara II Lomba karya hasil penelitian tingkat nasional tahun 2008

2. Dwi Andi Listiawan : Kepala Divisi Genetika (UGM DIY)
Juara I Lomba karya hasil penelitian tingkat nasional tahun 2008 dan
Juara II Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia Bidang IPA, LIPI Tahun 2008

3. Arista Dian Kartikasari : Departemen Kajian strategi dan kebijakan (UGM DIY)
Juara I Orasi ilmiah mahasiswa biologi tingkat nasional tahun 2008

Semoga prestasi yang telah terukir tersebut dapat memotivasi BPP Ikahimbi dan mahasiswa biologi pada umumnya untuk lebih berprestasi. Selengkapnya...

REFLEKSI PERJALANAN TIGA TAHUN IKATAN HIMPUNAN MAHASISWA BIOLOGI INDONESIA (IKAHIMBI)

Ikatan himpunan mahasiswa biologi Indonesia (Ikahimbi) didirikan pada saat musyawarah nasional mahasiswa biologi se-Indonesia tanggal 7 Desember 2005 di
Mataram. Ikahimbi didirikan dengan harapan besar dari mahasiswa biologi se-Indonesia, yaitu harapan menjadi organisasi nasional yang mampu mempersatukan himpunan mahasiswa biologi se-Indonesia. Ikahimbi dijadikan wadah kerja sama lintas kampus yang bertujuan untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa biologi Indonesia dan berperan aktif dalam eksplorasi sumber daya alam dan konservasi lingkungan hidup dalam upaya mewujudkan Tridharma Perguruan Tinggi dan berpartisipasi aktif dalam menjadikan Indonesia lebih baik dan bermartabat.
Oleh : Saevul Amri (Sekjen Ikahimbi)


Kepengurusan Ikahimbi berlangsung selama dua tahun dan dipimpin oleh seorang
sekretaris jenderal. Dalam melaksanakan amanahnya, sekretaris jenderal (Sekjen) dibantu
oleh badan pengurus pusat (BPP) Ikahimbi. Untuk memudahkan kinerja Ikahimbi, maka
pada tingkat wilayah dibentuk badan pengurus wilayah (BPW) yang dipimpin oleh
koordinator wilayah. Koordinator wilayah melakukan koordinasi dengan semua
himpunan mahasiswa biologi di wilayah kerjanya dan bertanggung jawab kepada
sekretaris jenderal Ikahimbi dan himpunan mahasiswa biologi di wilayahnya.
Kepengurusan Ikahimbi yang pertama (2005-2007) dipimpin oleh Edi Arip
Miharja, mahasiswa biologi Institut Pertanian Bogor. Kepengurusan pertama ini telah
berhasil membangun Ikahimbi dari nol. Ikahimbi pada masa ini telah memiliki AD-ART,
GBHK, Peraturan keuangan organisasi (PKO), dan Pola Dasar Penyelenggaraan
Organisasi (PDPO) yang jelas. Ikahimbi telah hidup dan mulai menunjukkan
eksistensinya melalui berbagai kegiatan, seperti seminar nasional di Universitas Negeri
Jakarta, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Mulawarman, dan Institut Pertanian
Bogor. Selain seminar nasional, telah dilakukan seminar hasil penelitian mahasiswa
biologi se-Indonesia di Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Mulawarman. Pada
tingkat wilayah, telah terbentuk 10 wilayah kerja di seluruh Indonesia (pada
kepenguruasan berikutnya menjadi 11 wilayah). Wilayah kerja yang memiliki
kepengurusan wilayahnya adalah wilayah kerja 2, wilayah kerja 3, wilayah kerja 5,
wilayah kerja 6, wilayah kerja 8, dan wilayah kerja 9. Perjalanan organisasi baru tidaklah
mudah, dari pengurus wilayah yang terbentuk tersebut ternyata tidak semua pengurus
wilayah berjalan dengan lancar seperti wilayah kerja 2 dan wilayah kerja 6. Masalah
kesulitan keuangan juga menjadi tantangan bersama. Sebagian besar pengurus pusat
Ikahimbi yang beranggotakan lebih dari 50 orang juga mengalami krisis komunikasi.
Meskipun demikian, masih terdapat sebagian pengurus pusat Ikahimbi yang yang hebat
dan tetap setia serta berjuang dengan sekuat tenaga demi kemajuan Ikahimbi. Kesuksesan
pengurus pertama Ikahimbi adalah mampu menjadikan jiwa dan semangat keberadaan
Ikahimbi telah dirasakan pada semua wilayah sebagai penyatu himpunan mahasiswa
biologi se-Indonesia dan menjadi bekal yang bagus bagi kepengurusan Ikahimbi
berikutnya.
Setelah kepengurusan pertama Ikahimbi usai, kepengurusan baru dengan
semangat baru telah terbentuk pada Musayawarah Nasional dan Musyawarah kerja
nasional Ikahimbi di Institut Pertanian Bogor. Kepengurusan Ikahimbi periode 2007-
2009 dipimpin oleh seorang Sekjen Ikahimbi yang bernama Saevul Amri, Mahasiswa
Biologi Universitas Gadjah Mada. Kepengurusan Ikahimbi yang kedua ini memiliki
modal awal yang cukup yaitu banyaknya anggota pengurus pusat yang mencapai 70
orang, hadirnya peserta saat Musyawarah Nasional yang berasal dari 9 wilayah kerja di
seluruh Indonesia, dan modal keuangan yang mencapai 1,5 juta rupiah. Lalu, apakah
yang sudah dilakukan oleh pengurus Ikahimbi hingga saat ini ?
Kepengurusan Ikahimbi yang besar dengan beranekaragam sifat dan terdistribusi
di seluruh Indonesia serta 80% pengurusnya adalah orang yang baru mengenal Ikahimbi
merupakan peluang dan tantangan dalam menjalankan amanah. Untuk mempererat
persaudaraan pengurus dan koordinasi kegiatan dilakukan komunikasi melalui media
internet dan handphone. Selama setengah tahun kepengurusan Ikahimbi, pengurus
Ikahimbi telah melakukan kegiatan seminar nasional di Universitas Airlangga,
Universitas Negeri Manado dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah; workshop
di Universitas Islam Negeri Yogyakarta; penanaman pohon dan bakti sosial di sejumlah
wilayah di Indonesia seperti di Palembang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Timur,
Kalimantan Timur, Sulawesi, dan Papua; Ikahimbi peduli bencana banjir 2008 dengan
mengumpulkan dana sekitar 5 juta dan mendistribusikannya kepada masyarakat yang
membutuhkan seperti di daerah Situbondo dan Ngawi; beberapa riset pengamatan burung
dan penyu di beberapa daerah seperti di Jakarta dan Jawa Timur. Selain itu, Ikahimbi
juga telah memiliki media informasi dan komunikasi yang resmi, yaitu website
(ikahimbi.org), forum (ikahimbi.org/forum), email (mail@ikahimbi.org dan
ikahimbi@yahoo.com), friendster, Facebook, dan sudah terdaftar dalam ITglobaltalking
dan dikti.org. Dari segi kerja sama, Ikahimbi telah menjalin kerja sama yang baik dan
akan berkelanjutan dengan Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI), Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI), lembaga pemerintah seperti Departemen Kehutanan dan
Departemen Pertanian RI, dan sejumlah LSM lingkungan tingkat nasional-internasional,
seperti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), The Nature Conservancy (TNC), dan
Ecoton. Salah satu contoh wujud nyata kerja sama tersebut adalah disediakannya
pembicara dan juri secara gratis dan tanpa menanggung biaya transportasi dari PBI, LIPI,
dan departemen pertanian RI pada seminar nasional di Universitas Airlangga dan
Lomba Karya Hasil Penelitian (LKHP). LIPI dan PBI memberikan apresiasi yang besar
terhadap juara LKHP tersebut, yaitu dengan membantu jurnal penelitian para pemenang
untuk dimuat di dalam sejumlah jurnal nasional dan internasional terakreditasi A. Selain
itu, telah dijalin komunikasi yang baik dengan organisasi mahasiswa nasional sejenis,
seperti dengan Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia dan Ikatan Mahasiswa
Teknologi Pertanian.
Pada tingkat wilayah, seperti di wilayah kerja 4 (Jawa tengah-DIY), 6 (Bali-Nusa
Tenggara), dan 11 (Papua) telah dibentuk pengurus wilayah yang solid dan berkomitmen
kuat, melakukan perluasan jaringan internal himpunan mahasiswa biologi, dan sampai
saat ini sedang menunjukkan eksistensi dan kontribusinya kepada Indonesia. Selain
wilayah tersebut, yaitu wilayah kerja 3 (Jakarta, Banten, dan Jawa Barat), wilayah kerja 5
(Jawa Timur), wilayah kerja 8 (Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan), dan wilayah
kerja 9 (Sulawesi) telah/sedang melakukan perluasan jaringan internal himpunan
mahasiswa biologi di wilayah kerja tersebut dan telah melakukan berbagai kegiatan
seperti bakti sosial, aksi damai, penanaman pohon, dan seminar. Wilayah yang sampai
saat ini belum memiliki pengurus wilayah adalah wilayah kerja 1 (sumatera I), wilayah
kerja 2 (sumatera II), wilayah kerja 7 (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), dan
wilayah kerja 9 (Maluku dan Maluku Utara). Meskipun demikian, wilayah yang belum
memiliki kepengurusan wilayah akan segera mengadakan musyawarah wilayah karena
sesungguhnya komunikasi dengan hampir semua himpunan mahasiswa biologi di
Indonesia sudah terjalin, seperti dengan himpunan mahasiswa biologi di Universitas Syah
Kuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Jambi, Universitas
Siwijaya, Universitas Lampung, Universitas Palangkaraya, Universitas Tanjungpura, dan
Universitas Khairun.
Ikahimbi sebagai organisasi nasional yang baru berumur tiga tahun dapat
dikatakan berkembang dengan pesat. Namun, semua yang telah dilakukan sampai saat ini
belumlah maksimal dan kemanfaatan Ikahimbi baru dirasakan oleh pengurus dan
sebagian kecil mahasiswa biologi dan masyarakat Indonesia. Kegiatan Ikahimbi yang
termasuk utama yang berupa kegiatan penelitian bersama juga belum berkembang dengan
baik. Masih diperlukan usaha yang kuat dan dukungan dari semua pihak. Ikahimbi
dengan berbagai macam potensi yang dimiliki sangat mungkin menjadi organisasi yang
berharga dan diperhitungkan dalam level nasional beberapa tahun lagi dengan adanya
kontribusi yang nyata bagi kemajuan Ilmu pengetahuan Indonesia, perbaikan kondisi
lingkungan Indonesia, dan bagi kesejahteraan masyarakat. Namun, cita-cita tersebut tidak
mungkin tercapai apabila setiap diri mahasiswa biologi masih memiliki egoisme diri dan
kampusnya masing-masing dan tidak memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan
Ikahimbi.
Selengkapnya...

04 November 2008

BIJI MANGROVE TAMENG SENGATAN ULTRAVIOLET

Mangrove tidak hanya bermanfaat untuk 'penjaga' pantai ketika ombak tinggi menerjang laut. Mangrove atau tanaman bakau ternyata mempunyai khasiat sebagai tabir surya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Linawati Hardjito, peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), telah membuktikan manfaat biji mangrove untuk melindungi kulit manusia dari sengatan sinar matahari.


Linawati dalam penjelasannya mengatakan sebetulnya pemanfaatan biji mangrove untuk tabir surya sudah dilakukan bertahun-tahun masyarakat di Bugis. "Setiap kali para nelayan akan melaut, mereka melumuri bagian tubuh yang terpapar matahari dengan bedak cair yang terbuat dari biji mangrove," kata Linawati di Jakarta, Rabu (30/7).

Tidak hanya pada masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, saja yang memanfaatkan biji mangrove untuk melindungi kulit dari sengatan matahari. Pada masyarakat Ternate, biji mangrove dijadikan ekstrak untuk mencegah kanker rahim.

Biji mangrove yang terdapat di dalam buah mangrove mengandung antioksidan dan bahan aktif untuk melindungi kulit dari sengatan sinar ultraviolet. "Dari hasil penelitian kami hingga praklinis membuktikan bahwa biji mangrove (Xylocarpus granatin) mengandung flavonoid dan tanin. Manfaatnya sangat besar untuk mencegah terjadinya kanker kulit akibat sering terpapar sinar matahari," kata Linawati.

Penelitian yang dilakukannya sejak 2003 itu menjadi salah satu penelitian unggulan tingkat internasional hingga Kementerian Riset dan Teknologi pun membiayai penelitian itu.

Lebih lanjut Linawati menjelaskan biji mangrove itu diolah menjadi ekstrak dan diberi zat tambahan lainnya untuk dijadikan krim tabir surya. "Ekstrak biji mangrove mengandung sun protector filter (SPF) 22. Sementara itu, standar nasional Indonesia (SNI) untuk tabir surya SPF-nya minimal 15. Maka tabir surya dari mangrove itu lebih dari cukup untuk melindungi kulit dari sengatan matahari."

Uji coba telah dilakukannya pada para mahasiswanya untuk mencoba krim tabir surya buatannya. Krim tabir surya itu warnanya mirip dengan warna kulit dan tidak memakai bahan pengawet. Sedangkan baunya, mirip bau mangrove.

Linawati masih akan menyempurnakan soal bau, agar lebih harum sehingga lebih disukai konsumen. "Karena ini bahan alami dan warisan tradisional, terbukti tidak menimbulkan efek samping." Ekstrak biji ternyata juga mengandung bahan polar dan nonpolar, sehingga dapat digunakan sehari-hari maupun saat berenang.

Menariknya, temuan Linawati itu telah diincar perusahaan asing dari Jerman. Saat itu pengusahanya meminta agar ia menjual dalam skala lisensi. Namun Lina menolak. "Temuan itu sudah saya patenkan. Saya baru mencari investor untuk bisa memasarkan produk ini. Selama ini produk masih terbatas dijual di kampus IPB saja." Apabila produknya itu bisa diproduksi secara massal, Linawati pun bercita-cita mendirikan perusahaan kosmetika yang digali dari pengetahuan lokal masyarakat.

"Biasanya memang berhasil. Penelitian saya ini pun bisa berhasil 90%, karena semuanya berdasarkan pengalaman masyarakat yang sudah turun-temurun menggunakan biji mangrove untuk tabir surya. Jadi saya menginginkan temuan saya ini meski tradisional tapi modern, dan berdasarkan kajian ilmiah, lewat riset." (MEDIA INDONESIA, 1 Agustus 2008/ humasristek)

Selengkapnya...

PENERBANGAN PESAWAT BISA TIRU SEMUT

Ahli komputer mensimulasikan aktivitas penerbangan dengan model kerja semut untuk mengurangi delay

Bepergian keluar kota dengan menggunakan jalur udara, satu hal yang sangat menjengkelkan adalah adanya penundaan penerbangan pesawat atau delay. Karena hal ini, waktu perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh lebih cepat, tapi datang ke kota tujuan waktunya menjadi lebih lama. Keluhan ini umum diceritakan bagi mereka yang mengambil penerbangan luar negeri di jalur padat penerbangan, misal Phoenix Sky Harbor Airport.

Untuk memecahkan masalah penerbangan lalu lintas udara ini, seorang analis keuangan di Dallas, Texas, menggunakan konsep kecerdasan kelompok ditiru dari kelompok semut.


”Ini adalah solusi yang efektif karena mereka bisa bekerja dengan sangat efisien,” ujar Douglas Lawson, Ph.D., Manager Analis Keuangan Southwest Airlines in Dallas, Texas.

Menggunakan simulasi komputer untuk menjalankan pesawat virtual, kecerdasan kelompok ini menjadi kunci utamanya. Konsepnya disusun sangat sederhana di mana masing-masing pesawat berkomunikasi antar sesamanya untuk meningkatkan efisiensi operasi baik saat akan mendarat atau keberangkatan.

Lawson bercerita bahwa konsep seperti ini sebenarnya juga telah dilakukan dalam ekonomi dan pasar bisnis. Misalnya pada sebuah pabrik, di dalamnya akan terbagi atas mereka yang bekerja sebagai pemroduksi, marketing dan sebagainya. Pada lebah juga ada sebagai lebah pekerja, tentara, atau ratu.

”Semua untuk meningkatkan produksi dan bekerja lebih cepat,” paparnya.

Untuk memulainya pada lalu lintas udara, ini adalah hal yang baru di mana pengaturan kecepatan ini dilakukan sesuai jadwal di mana tempat mendarat atau keberangkatan ini memungkinkan.

”Pesawat tidak akan lagi berputar-putar untuk menunggu di mana pendaratan atau penerbangan biasa dilakukan,” jelasnya.

Saat cara ini dipraktikkan, besar kemungkinan akan membuat pelanggan jauh lebih cepat sampai ditempat tujuan.

”Hal ini akan memperbendek waktu karena yang mengendalikan adalah koloni itu sendiri,” ujar Lawson.

Pasalnya, program yang menggunakan teori kelompok (swarm theory) bisa berperilaku seperti semut yang memungkinkan masing-masing pilot untuk mencari sendiri jalan di pintu mana yang bisa untuk mendarat.

”Pilot akan mencari sendiri di mana lokasi terbaik sesuai pengalamannya,” jelasnya.

Dan jika akan ada sesuatu yang terjadi maka program pun secara otomatis akan terlebih dahulu memberitahu sebelum hal itu terjadi.

Cerita ini adalah gambaran cara semut bekerja untuk mencari makan. Mereka dengan mudahnya bisa berjalan sesuai barisan pada jalur yang ada, berpencar, dan menemukan sumber untuk kemudian kembali ke sarang dengan sangat cepat. Masing-masing semut bisa bekerja dengan cepat karena mereka saling berkomunikasi antar sesamanya. Di sini feromon, sebuah senyawa pengikat antar semut, berfungsi sebagai tanda. Pengulangan yang kuat membuat semut-semut ini ketika berpisah dari kelompok dan sarangnya kemudian menemukan makanan bisa dengan cepat kembali ke sarang.

Tapi jika individu semut ini berpisah dari kelompoknya, mereka akan berputar-putar dan mengikuti feromonnya sendiri. Mereka bisa saja tidak menemukan jalan hingga akhirnya mati kehausan.

Semut pun dengan mudah bisa mengetahui di mana lokasi lubang sarangnya hanya dengan mengandalkan feromon ini. Jalur tercepat pun pada beberapa jenis semut bisa dicapai berdasarkan rumus matematika mereka yang sangat ajaib.
”Ini seperti lebah yang mencari makan dengan berkelompok,” ujar Lawson.

Model seperti ini disebut dengan "swarm intelligence" dan menggambarkan betapa sangat kompleknya tingkah laku individu semut untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Tapi semuanya ditentukan oleh sebuah aturan yang juga menjadi kecerdasan kelompok seperti halnya lebah.

Cara Unik Semut Menemukan Jalan

Kawanan tentara di kelompok semut besar yang terdapat di Amerika tengah dan paling selatan, menunjukkan perilaku yang sangat spektakuler dalam hal pengeroyokan mangsa saat mereka ganas dan menjadi seperti binatang pemakan. Dalam sekali serangan ini jumlah hewan penghancur yang pergi ke sana kemari ini bisa mencapai 200 ribu semut. Untuk itu guna menghindari serangan ini hewan-hewan yang berada di sekitar sarang semut harus menjauh dari setiap lubang yang ada di sekitar sarang utama. Karena dalam hitungan detik, jika terjadi gangguan pada sarang maka di setiap lubang di sekitar sarang akan muncul semut tentara ini untuk menyerang.

Mereka yang mengeroyok memangsa dan memotong-motong untuk mengambil sebagai makanan. Mereka pun bisa dengan cepat terhubung satu sama lain dan mendapatkan jalur terbaik. Memotong jalur dan berlompatan antarranting maupun daun bisa menjadi kunci tercepat sampai ke sarang. Hal ini meski terlihat ekstrem, namun dalam hitungan mereka jalur mendatar dengan tujuan jalan yang lurus adalah jalan tercepat. Menuju ke sarang utama ini bisa segera dicapai dengan adanya feromon sebagai senyawa pengikat.

Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Dr Scott Powell dan Profesor Nigel Franks di University of Bristol di Animal Behaviour melaporkan bahwa ini merupakan mekanisme alam dengan kualitas dan perbaikan yang tepat. Komunikasi antarsemut yang ada membuat jalur lebih cepat dan meningkatkan hasil karena produksi makanan yang dibawa ke sarang jauh lebih banyak.

”Ini tidak akan terjadi jika mereka lepas dari lingkaran jalur mereka,” ujar Powell.

Telah dibuktikan meski dengan eksperimen lubang tiruan dengan ukuran yang berbeda dan ada yang sama dengan lubang besar lainnya sebagai lalu lintas menuju sarang utama, tapi mereka tidak pergi ke lubang tersebut.

”Mereka menemukan jalan mereka sendiri untuk menuju lubang utama yang menurut mereka cepat,” ujarnya Franks.
Tim pun mencoba untuk melakukan penandaan pada bekas-bekas lubang yang ada dengan bekas galian lubang mereka, namun ternyata semut tetap berjalan pada posisi jalan mereka sendiri ke lubang utama.

Ilmuwan di masa mendatang memungkinkan jalur komunikasi ini sebagai program baru untuk berkomunikasi antarrobot. Tingkah laku serangga yang bekerja sama bisa menjadi kunci sosial antar robot untuk saling mengaktifkan. Misalnya ketika salah satu robot pada koordinat tertentu menemukan sesuatu, maka robot lainnya yang sedang beristirahat, dengan segera bisa aktif untuk mempersiapkan penyelidikan. Kecerdasan ini mungkin saja pada suatu hari akan digunakan untuk mengeksplorasi Mars yang saat ini sedang dilakukan oleh NASA. (JURNAL NASIONAL, 1 Juli 2008/ humasristek)

Selengkapnya...

Jantung Berteknologi Satelit

TEMPO Interaktif, London: Prinsip kerja jantung manusia ternyata sama dengan pesawat terbang. Alasan itulah yang membuat European Aeronautic Defense and Space, atau EADS, induk perusahaan Airbus, tertarik meluaskan sayapnya dan memproduksi jantung buatan yang diklaim dapat merespons tubuh manusia dengan lebih baik.

Sebagai raksasa industri pesawat, satelit, dan sistem telekomunikasi militer, tak mengherankan bila EADS memasukkan beragam teknologi canggih satelit dan pesawat dalam pembuatan jantung itu. Untuk mewujudkan bisnis baru ini, EADS menggandeng pakar jantung asal Prancis, Alain Carpentier, dan mendirikan Carmat. "Prinsip yang digunakan pada pesawat sama dengan tubuh manusia," kata Patrick Coulombier, kepala operasi Carmat.


Coulombier mengatakan sensor kecil yang digunakan untuk mengukur tekanan udara dan ketinggian pada sebuah pesawat atau satelit ternyata juga bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi kecepatan pemompaan jantung serta tekanan pada dindingnya. Berkat teknologi tersebut, jantung made-in Prancis ini dapat merespons dengan cepat bila pasien membutuhkan lebih banyak atau lebih sedikit pasokan darah. Jantung ini diperkirakan bakal dijual seharga Rp 2 miliar.

Harganya sedikit "miring" dibandingkan jantung buatan Amerika saat ini, AbioCor. Jantung buatan produksi Abiomed itu dijual dengan kisaran harga Rp 2,7 miliar.

Jantung buatan Carmat ini diungkapkan pertama kali dalam sebuah konferensi pers di Paris, pekan lalu. Sejauh ini, jantung tersebut baru diuji terhadap binatang. Para ilmuwan berharap suatu hari nanti jantung buatan ini dapat membantu penderita gagal jantung bertahan hidup tanpa memerlukan transplantasi jantung manusia.

Ahli jantung Alain Carpentier menyatakan dirinya perlu lebih dari 15 tahun untuk menyempurnakan prototipe ini setelah mengalami berbagai kegagalan dalam merancang prototipe lainnya. Carpentier menyatakan jantung buatan ini adalah cara alternatif untuk mengatasi minimnya donor jantung dan bertambah panjangnya daftar tunggu pasien jantung.

"Saya tidak bisa diam melihat kaum muda yang aktif mati di usia 40 tahun karena serangan jantung berat," kata pendiri Heart Transplant and Prostheses Laboratory di Pierre & Marie Curie University, Paris, ini.

Salah satu perbaikan yang dilakukannya adalah menutupi jantung baru itu dengan jaringan alami yang diperlakukan secara khusus, atau disebut jaringan biosintesis, untuk menghindari masalah penolakan. Hal ini membuat sejumlah dokter optimistis bahwa jantung yang sebagian besar terbuat dari jaringan alami tersebut bisa melindungi pasien dari obat-obatan antipenolakan dan antipenggumpalan.

Sebenarnya, bukan hanya ilmuwan Amerika dan Prancis yang piawai merakit jantung buatan. Para peneliti di Jepang dan Korea Selatan juga ahli dalam membuat jantung buatan. Tapi jantung buatan Prancis ini punya keunggulan dibandingkan dengan versi Jepang, Korea, atau Amerika sekalipun. Ini adalah jantung buatan pertama yang mampu menentukan kebutuhan pasien dan meresponsnya.

Abiomed telah mengetahui kemajuan proyek jantung buatan Prancis itu. Tapi perusahaan Amerika tersebut menyatakan generasi terbaru produknya tetap selangkah lebih maju. "Jantung buatan kami telah dicangkokkan ke sejumlah pasien dan mendapat persetujuan dari FDA, badan makanan dan obat Amerika," kata Aimee Maillett, juru bicara perusahaan tersebut. Rata-rata, AbioCor dapat memperpanjang usia pemakainya sampai lima bulan.

Jantung buatan yang ada di pasaran saat ini tak bisa memvariasikan kecepatan pemompaan secara otomatis. Sedangkan jantung Prancis ini boleh dibilang "hidup", dengan dua pompa pengirim darah ke dalam paru-paru dan seluruh tubuh, hampir sebaik jantung asli. Jantung buatan milik Abiomed hanya memiliki satu pompa.

Untuk memastikan jantung buatan ini mampu bekerja dengan semestinya, para ilmuwan di Carmat telah mengujinya terhadap domba selama tiga sampai enam bulan. Mereka juga mengecek bagaimana tubuh binatang itu bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap jantung baru itu. Tapi mereka tidak mengetes seberapa lama jantung itu bisa memperpanjang usia si domba.

Eksperimen laboratorium menguji jantung itu dalam beragam skenario, misalnya bila seorang pasien berolahraga dan membutuhkan lebih banyak suplai darah. "Jika benar-benar bekerja, ini adalah terobosan besar," kata Dr Douglas Zipes, mantan Kepala American College of Cardiology dan dosen kardiologi di Indiana University.

Jantung buatan versi Prancis ini terbuat dari bahan alami, di antaranya polimer dan jaringan babi. Material binatang itu memang telah lazim digunakan dalam katup jantung yang dicangkokkan pada manusia. Karena bersifat alami, jaringan babi tidak menyebabkan masalah penolakan atau penggumpalan, yang biasa terlihat pada perangkat atau jantung buatan.

Perusahaan biomedis itu berencana membuat 15 jantung buatan. Sebagai tahap awal, jantung buatan ini akan dicangkokkan kepada pasien yang menderita serangan jantung berat atau gagal jantung. Tak menutup kemungkinan juga dicangkokkan kepada pasien yang kondisi jantungnya tidak terlampau parah.

Para dokter Prancis berharap pengetesan pada manusia bisa dimulai dalam dua sampai tiga tahun mendatang, setelah mereka mendapat persetujuan dari pihak berwenang di Prancis. "Hanya lewat uji klinislah yang bisa membuktikan apakah jantung buatan versi Prancis ini sesuai dengan klaim yang dibuat perusahaan manufakturnya," kata Peter Weissberg dari British Heart Foundation.

Salah satu tantangan terbesar yang masih harus dibuktikan adalah masalah suplai tenaga. Carmat menyatakan baterainya tahan sekitar 5-16 jam dan harus segera diisi ulang untuk menghindari jantung berhenti berdetak. Kini tim Carpentier mempelajari dua opsi tanpa harus memasukkan kabel ke dalam kulit untuk menghindari risiko infeksi.
Selengkapnya...

29 Oktober 2008

Kesalahan Ahli Ekologi dan Ahli Lingkungan

Oleh : Saevul Amri

Suatu pilihan bijak terkadang berat untuk dijalankan dan seringkali dibenturkan oleh kebutuhan manusia. Motif ekonomi selalu menjadi alasan utama dan tidak terkalahkan sampai saat ini dalam menjalankan praktik pembangunan yang notabenya merusak lingkungan. Pemerintah (penentu kebijakan) sering kali membuat peraturan dan kebijakan yang justru merusak lingkungan, seperti pendirian pelabuhan di suatu lokasi kawasan lindung, memberikan izin penambangan di berbagai kawasan lindung, dan mengizinkan perusahaan-perusahaan melakukan tindakan perusakan lingkungan. Sebagian besar pelaku bisnis seringkali menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan. Modal kecil dengan tidak mengalokasikan dana lingkungan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya masih digunakan oleh sejumlah pelaku bisnis. Padahal, sangat dimungkinkan beberapa tahun ke depan manusia akan merasakan dampak yang luar biasa dari kerusakan alam yang ditimbulkannya.
Mengapa manusia melakukan semua ini? apakah mereka tidak mengerti dampak yang ditimbulkan? Secara naluriah, manusia sewajarnya memikirkan keberlanjutan kehidupan dirinya dan kehidupan anak cucunya. Namun, sepertinya naluri yang ada hanyalah naluri untuk memikirkan keberlanjutan dirinya saja tanpa memperhatikan nasib anak cucunya di bumi ini. Apakah selama sekolah/kuliah mereka hanya mempelajari ekonomi, politik, atau hukum?. Hal ini sangatlah mungkin terjadi. Mereka sebenarnya tidak memahami apa dampak aktivitas yang mereka lakukan. Disinilah peran dan fungsi komunikasi di antara semua pihak diperlukan.
Manusia yang ahli ekologi dan lingkungan mempunyai peran yang besar dalam memberi pemahaman tentang konsep lingkungan dan ekosistem yang sesungguhnya terhadap pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Dunia dan Indonesia khususnya memiliki banyak ahli ekologi atau ahli lingkungan, tetapi kenapa kerusakan alam tetap terjadi? Apakah mereka tidak bisa memberi pemahaman pada yang lain? Apakah mereka hanya sibuk melakukan penelitian dan penelitian tanpa melakukan tugas utama mereka dalam berbagi ilmu? Apakah mereka tidak bisa bicara dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami kepada yang lain? Mengapa mereka juga tidak berusaha mempelajari ilmu hukum, ekonomi, politik, dan teknologi meskipun sedikit untuk mensinergiskan ilmunya? Inilah kegagalan para ahli ekologi atau ahli lingkungan kita. Meskipun demikian, ahli ekologi atau lingkungan tidak bisa disalahkan seratus persen.
Sebuah argumentasi dan cara yang tepat sangat perlu dilakukan untuk menyadarkan pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Inilah perlunya seorang yang ahli lingkungan atau ekologi belajar disiplin ilmu lain meskipun sedikit dan perlunya memiliki ikatan jaringan yang kuat dan komunikasi yang baik dengan pejabat pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Namun, apakah perlu ahli lingkungan atau ekologi terjun langsung menjadi pejabat pemerintah atau pelaku bisnis?
Selengkapnya...

Akankan manusia menyakiti makhluk lain yang membantunya ?

Oleh : Saevul Amri

Manusia hidup di dunia ini tidaklah sendirian. Tuhan menciptakan alam ini dengan beranekaragam jenis makhluk hidup dan dengan kemelimpahan sumber daya alam. Pada waktu saya kecil, saya hanya dapat melihat makhluk hidup yang besar. Makhluk hidup terkecil yang pernah dilihat pada waktu itu hanyalah tengu. Namun, pada saat ini saya menyadari bahwa ada jutaan makhluk halus yang membersamai saya di dalam semua aktivitas. Pada saat ini, sudah teridentifikasi lebih dari 1,5 juta jenis makhluk hidup. Padahal masih jauh lebih banyak makhluk hidup yang belum ditemukan dan diidentifikasi.
Berbagai penemuan makhluk hidup baru telah dilakukan. Salah satu penemuan spesies paling mengagumkan pada abad ini terjadi di Sulawesi Utara, Indonesia, pada tahun 1997. Spesies tersebut adalah seekor ikan aneh dan tidak dikenal yang ternyata adalah anggota bangsa Coelacanth, ikan purba yang sangat langka di dunia. Penemuan luar biasa lainnya adalah penemuan dunia yang hilang pada tahun 2005 di Pegunungan Foja Mamberamo, Papua. Di tempat tersebut ditemukan banyak spesies baru dan unik.
Seperti halnya manusia, semua makhluk hidup juga melakukan aktivitas untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan jenisnya. Oleh karena itu, kita sebagai manusia yang berakal dan bermoral sudah sepantasnya hidup saling menghargai dan tidak saling memusnahkan. Kalo kita sadari, makhluk hidup yang lain memberikan kemanfaatan yang besar bagi kehidupan manusia. Pohon menyediakan gas untuk kehidupan manusia, ganggang dan rumput laut yang menjadi awal berbagai rantai makanan laut membuat ikan yang dapat kita konsumsi dapat hidup di sana, serangga dapat menyerbukkan tumbuhan sehingga kita dapat memperoleh manfaat dari tumbuhan yang tumbuh, lichen dapat membantu manusia untuk mengidentifikasi daerah yang terkontaminasi di sekitas sumber polusi udara seperti tempat peleburan emas. Mungkin juga, tanaman yang ada di sekitar kita selain menyediakan oksigen dan penahan air tanah juga memiliki berbagai macam fungsi yang dapat dimanfaatkan.
Berapa banyak lagi penemuan akan manfaat makhluk hidup lain dalam tahun-tahun mendatang-dan berapa banyak lagi yang akan punah sebelum diketahui manfaatnya? Dengan mengingat berbagai manfaat dan kemungkinan adanya manfaat yang belum kita ketahui dari setiap makhluk hidup, manusia seharusnya tidak memperlakukan makhluk lain sekehendak manusia dan mengeksploitasi secara berlebih.
Selengkapnya...

Tingkatkan kemampuan diri dengan kebutuhan zaman secara komprehensif

Selama masih ada kehidupan, biologi masih diperlukan

Biologi adalah ilmu yang komprehensif dalam melihat kondisi biologis makhluk hidup. Seiring perkembangan zaman, kebutuhan manusia untuk menyejahterakan diri semakin meningkat dan otomatis lingkungan alam mengalami perubahan. Sebagai seorang biologist, saya seharusnya memahami alam secara terpadu, bukan hanya memahami cara memberantas hama tumbuhan tanpa memahami dampak bagi lingkungan, bukan hanya ahli mengkloning sesuatu tanpa memperhatikan respon alam. Hal ini karena kita hidup di ekosistem yang kompleks.

Bukan hanya ilmu untuk mengisolasi DNA mikrobia, ilmu mengkultur, atau hanya ilmu tentang ekosistem yang harus dikuasai. Biologist haruslah memahami biologi secara mikro dan makro. Untuk memperoleh ilmu yang terpadu tersebut, seorang yang sedang menjalani kuliah di jurusan atau fakultas biologi khususnya S-1 hendaknya mengambil mata kuliah biologi mikro dan biologi makro secara seimbang. Janganlah terjebak hanya karena gengsi atau popularitas mata kuliah tertentu.

Perlu diingat juga, kemampuan kita sebagai mahasiswa juga terbatas. Kita sangat sulit untuk menguasai semua disiplin ilmu biologi. Oleh karena itu, totalitas dan spesifikasi disiplin ilmu biologi tertentu diperlukan. Meskipun demikian, biologist yang ahli di bidang disiplin ilmu tertentu sebaiknya juga mengerti disiplin ilmu yang lain walaupun secara umum. Selain itu, diperlukan sikap saling menghargai diantara biologist yang memiliki spesifikasi disiplin ilmu yang berbeda.

Seorang mahasiswa biologi hendaknya juga selalu melihat dan memahami kondisi alam terkini dan melihat apa yang dibutuhkan oleh alam dan bangsa Indonesia. Jangan sampai merasa hebat karena telah menguasai ilmu biologi tertentu, tetapi ternyata ilmu tersebut sudah jarang diaplikasikan dan tidak begitu dibutuhkan oleh bangsa. Oleh karena itu, mahasiswa biologi diharapkan membekali diri dengan ilmu biologi yang sesuai dengan kondisi zaman dan secara komprehensif.

Selengkapnya...

26 Agustus 2008

Teori Evolusi Bermula dari Penelitian di Ternate

London, (ANTARA News) - Teori evolusi ternyata bermula dari penelitian yang dilakukan di Ternate, Indonesia oleh Alfred Russel Wallace, ilmuwan berkebangsaan Inggris yang lahir pada tahun 1823.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Lembaga Eijkman, Profesor Doktor Sangkot Marzuki dalam diskusi yang diadakan di PTRI Jenewa, kata Sekretaris Kedua PTRI Jenewa, Yasmi Adriansyah kepada koresponden ANTARA London, Jumat.

Menurut Prof Sangkot, berdasarkan fakta-fakta tersebut, komunitas ilmiah Indonesia merencanakan akan mengadakan perayaan 150 Tahun Teori Evolusi Wallace pada akhir tahun 2008.

Sejumlah diskusi dan pameran akan digelar di Jakarta dan saat ini sedang dijajaki pameran multimedia di Markas PBB di Jenewa (Palais des Nations) November mendatang dengan dukungan PTRI Jenewa, yang diharapkan dapat menarik perhatian komunitas internasional.

Acara puncak adalah konferensi internasional pada bulan Desember di Ternate, tempat Wallace banyak melakukan penelitian kemudian mengukuhkan diri sebagai ilmuwan pertama yang mencetuskan Teori Evolusi.

Menurut Prof Sangkot, selama ini publik beranggapan Teori Evolusi merupakan buah pemikiran dan hasil penelitian dari Charles Robert Darwin, seorang peneliti yang berkebangsaan Inggris (1809).

Dikatakannya, melalui buku berjudul" On the Origin of Species "(1859), Darwin berhasil meyakinkan dunia dengan Teori Seleksi Alam, yang berargumentasi dan menyajikan fakta ilmiah asal-usul spesies makhluk hidup berevolusi dari nenek moyang yang sama melalui proses seleksi alam.

Sangkot mengatakan pada tahun 2009 nanti komunitas biologi dunia akan merayakan peringatan 150 Tahun Teori Evolusi Darwin. Namun demikian anggapan publik dalam konteks sejarah tidak dapat dikatakan sepenuhnya benar.

Menurut Sangkot, jika dilihat dari sejumlah referensi, Teori Seleksi Alam sesungguhnya pertama kali dicetuskan Alfred Wallace melalui tulisannya "On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely From the Original Type".

Dikatakannya , tulisan tersebut muncul pada tahun 1858, satu tahun sebelum penerbitan buku Darwin, dan memuat argumentasi mengenai keberadaan seleksi alam dalam evolusi spesies makhluk hidup.

Artinya, Teori Evolusi melalui seleksi alam sesungguhnya dimunculkan pertama kali oleh Wallace, bukan Darwin.

Sangkot mengatakan terdapat kemiripan teori Darwin dengan hasil penelitian Wallace mengingat tulisan Wallace tersebut pertama kali ditujukan kepada Darwin pada tahun 1858.

Pada saat itu , Wallace kerap melakukan korespondensi dengan Darwin, termasuk mengirimkan sejumlah hasil penelitiannya. Wallace merupakan peneliti yang miskin dan tidak jarang mendapatkan bantuan finansial dari Darwin, seorang peneliti yang kaya.

Fakta ini sangat penting bagi Indonesia mengingat sebagian besar penelitian Wallace dilakukan di Indonesia, khususnya di Ternate.

Selain pertama kali mencetuskan Teori Seleksi Alam, Wallace juga menelurkan konsep-konsep terkenal seperti Garis Wallace (Wallace Line), sebuah garis yang membelah kawasan geografis hewan-hewan Asia dan Australia.

Garis-garis tersebut melintang di sepanjang kepulauan Nusantara (Pulau Kalimantan dan Sulawesi) serta memisahkan Selat Lombok dan Pulau Bali.

Hasil penelitian Wallace tersebut utamanya didasarkan pada penyebaran sejumlah besar spesies burung di kawasan-kawasan tersebut.

Deskripsi mengenai Garis Wallace ini dapat dilihat dari tulisan Wallace yang berjudul" On the Zoological Geography of the Malay Archipelago "(1859).

Dalam melakukan penelitian-penelitian tersebut, sebagian waktu Wallace dihabiskan di Indonesia, khususnya antara tahun 1854 sampai dengan 1862.

Bahkan, menurut Prof Sangkot, terdapat bukti historis bahwa Wallace memiliki tempat tinggal di Ternate yang diperkirakan masih ada hingga kini.(*)

Sumber : Antara Selengkapnya...

29 Juli 2008

Menjadikan Styrofoam Ramah Lingkungan

Bakteri ada di mana-mana. Diam-diam mereka bekerja menghancurkan selulosa, mencerna sisa-sisa makanan, atau mengikat nitrogen di dalam tanah.Selain itu, dengan perkembangan bioteknologi,beberapa turunan bakteri tertentu juga dimanfaatkan untuk membersihkan minyak yang tumpah di laut hingga menangkap gambar beresolusi tinggi layaknya fungsi retina.

Baru-baru ini, para ahli biologi di University of College Dublin, Irlandia, menemukan turunan bakteri Pseudomonas putida, yang biasa ditemukan di dalam tanah, memakan minyak styrene murni dan mengubahnya menjadi plastik yang ramah lingkungan. Minyak yang merupakan hasil pemanasan styrofoam pada suhu tinggi itu mencemari tanah karena sulit terdegradasi di alam.

Kevin O’Connor dan koleganya mengubah polystyrene menjadi minyak melalui pyrolysis, yaitu memanaskan plastik turunan minyak bumi dengan suhu 520 derajat Celcius tanpa melibatkan oksigen. Pemanasan tersebut menghasilkan cairan yang terdiri atas minyak styrene sebesar lebih dari 80 persen dan sisanya berupa cairan racun lainnya.

Para peneliti kemudian memberikan cairan ini kepada salah satu turunan bakteri, Pseudomonas putida CA-3. Pada awalnya, mereka berharap bakteri akan memurnikan styrene dari larutan.

Namun, bakteri justru sangat menikmati menu makan barunya ini dan mengubah 64 gram styrene campuran untuk menghasilkan sekitar 3 gram bakteri baru.

Dalam proses ini, bakteri menyimpan 1,6 gram energi minyak styrene dalam bentuk plastik biodegradable (dapat terurai di alam) yang disebut polyhydroxyalkanoate atau PHA. Selain musnah jika dibakar, plastik jensi ini juga mudah terurai di alam.

Namun, proses biologi yang dilakukan bakteri menghasilkan produk sampingan yang masih beracun, yaitu toluene. Meskipun demikain, temuan ini membawa harapan baru karena menunjukkan bahwa styrofoam dan milekul polystyrene yang menyusunnya dapat diubah menjadi ramah lingkungan.

Styrofoam adalah salah satu sumber pencemaran lingkungan yang besar. Di AS saja, styrofoam sekitar 3 juta ton diproduksi pada 2000 dan 2,3 juta di antaranya dibuang ke lingkungan. “Prinsip dalam proses tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendaur ulang sampah plastik dari turunan minyak bumi,” kata para peneliti yang melaporkan temuannya dalam Environmental Science and Technology edisi 1 April.

sumber:http://www.sciam.com

Selengkapnya...

25 Juli 2008

Vegetarian Bantu Kurangi Pemanasan Global

Kapanlagi.com - Pola hidup vegetarian dapat membantu dunia mengurangi pemanasan global yang disebabkan gas buang dari industri peternakan, kata tokoh lingkungan Taiwan Wang Tzu Kuang.

Dengan hanya mengonsumsi bahan nabati tanpa berlebihan, kaum vegetarian, misalnya, dapat menekan laju peternakan hewan konsumsi yang menjadi biang pemanasan global, kata Wang dalam seminar "The Survival of The Planet and Life" (Keberlangsungan Bumi dan Kehidupan), di Batam, Minggu malam.

Tokoh lingkungan yang juga Ketua "International Nature Loving Federation" tersebut mengatakan, dari berbagai penelitian, ternyata efek rumah kaca yang berdampak negatif pada lapisan es Kutub Utara, terutama bukan disebabkan gas dari industri atau kendaraan bermotor.

Justru, katanya, karbon dioksida, metana, nitro oksida dari kotoran ayam, itik, sapi, babi, kambing, domba di berbagai industri peternakan, merupakan penyebab terbesar menebalnya lapisan gas rumah kaca di atmosfir yang kemungkinan besar memusnahkan bongkahan es (glasier) di Kutub Utara pada 2012.

Daya ikat gas metana pada panas 20 kali lebih kuat dari gas asam arang (karbon dioksida), sedangkan kekuatan ikat nitro oksida 26 kali daripada gas asam arang.

Itulah, katanya, yang dihasilkan dari industri susu dan daging, juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Di lain pihak, rata-rata dalam satu detik, dunia kehilangan hutan seluas satu lapangan sepakbola.

Wang menyebut dampak negatif kotoran hewan dari industri peternakan kian diakui lembaga internasional yang semula menahan diri dalam memublikasikan dampak negatif industri peternakan.

Hasil penelitian dari Organisasi Pertanian dan Makanan Dunia (FAO), dan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), katanya, juga menunjukkan korelasi yang positif.

"Bukan hanya dari limbah domestik sapi," kata Wang, "metana dalam jumlah yang luar biasa dihasilkan dari setiap kentutnya."

Kini, katanya, bagi vegetarian atau siapa saja yang mempraktikkan pola hidup prolingkungan, dapat menyumbang peran lebih bermakna bagi keberlangsungan keberadaan es di Kutub Utara.

Selain hanya mengonsumsi makanan nabati, katanya, generasi sekarang dapat mengurangi gas buang kendaraan bermotor dengan bersepeda atau berjalan kaki untuk jarak tempuh pendek, dan di rumah-rumah memakai lampu hemat energi.

Ia menyeru supaya orang di rumah-rumah tangga juga mengurangi suhu dingin ruang bermesin pengatur suhu, dan mematikan sambungan lisrik ke komputer atau televisi ketika tidak digunakan.

"Tanamlah pohon," kata Wang.

Pohon-pohon yang kelak tumbuh besar sampai tiga puluh tahun, dapat mengurangi penggunaan AC (air conditioning) di negara-negara tropika.

sumber:www.kapanlagi.com
Selengkapnya...

Biopori: Teknologi Solusi Banjir

(Erabaru.or.id) — Teknologi biopori ini ditemukan oleh Ir. Kamir R Brata MS dosen ilmu tanah, air, dan konservasi lahan Fakultas Pertanian IPB.

Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.

Prinsip dari teknologi ini adalah menghindari air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tersebut.

Teknologi ini bisa diterapkan di kawasan perumahan yang 100% kedap air, di saluran air, di rumah-rumah yang memiliki lahan terbuka bahkan untuk kawasan persawahan di lahan miring.

Tak perlu khawatir tanah akan menjadi lunak, karena air yang terserap akan tersimpan menjadi cadangan air di bawah tanah. Begitu pun tidak ada bau yang ditimbulkan dari sampah karena terjadi proses pembusukan secara organik.

Cara pembuatan lubang ini ternyata cukup sederhana. Diawali dengan pembuatan lubang dan memasukkan sampah organik ke dalam lubang tersebut. Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisma pengurai sehingga terbentuk pori-pori. Dengan cara ini, air hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan, melainkan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori.

Langkah-langkah membuat lubang resapan biopori (LRB):

1. Dengan sebuah bor LRB kita bisa membuat lubang, untuk memudahkan pembuatan lubang bisa dibantu diberi air agar tanah lebih gembur.

2. Alat bor dimasukkan dan setelah penuh tanah (kurang lebih 10 cm kedalaman tanah) diangkat, untuk dikeluarkan tanahnya, lalu kembali lagi memperdalam lubang tersebut sampai sedalam 80 cm dan diameter 10 cm.

3. Pada bibir lubang dilakukan pengerasan dengan semen atau potongan pendek pralon. Hal ini untuk mencegah terjadinya erosi tanah.

5. Kemudian di bagian atas diberi pengaman besi supaya tidak terperosok ke dalam lubang.

6. Masukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman) ke dalam LRB. Jangan memasukkan sampah anorganik (seperti besi, plastic, baterai, stereofoam, dll)!

7. Bila sampah tidak banyak cukup diletakkan di mulut lubang, tapi bila sampah cukup banyak bisa dibantu dimasukkan dengan tongkat tumpul, tetapi tidak boleh terlalu padat karena akan mengganggu proses peresapan air ke samping.

Pemeliharaan LRB:

1. Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik

2. Sampah organik dapur bisa diambil sebagai kompos setelah dua minggu, sementara sampah kebun setelah dua bulan. Lama pembuatan kompos juga tergantung jenis tanah tempat pembuatan LRB, tanah lempung agak lebih lama proses kehancurannya. Pengambilan dilakukan dengan alat bor LRB.

3. Bila tidak diambil maka kompos akan terserap oleh tanah, LBR harus tetap dipantau supaya terisi sampah organik.

Lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna untuk mengurangi genangan air dan sampah organik serta konservasi air bawah tanah. Untuk setiap 100 m2 lahan idealnya Lubang Resapan Biopori (LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100 cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah. Sampah dapur dapat menjadi kompos dalam jangka waktu 15-30 hari, sementara sampah kebun berupa daun dan ranting bisa menjadi kompos dalam waktu 2-3 bulan.

Selengkapnya...

Wuuih Ada Baterai dari Buah Salak

Sutikno kaget, ternyata topik sumber arus dalam mata pelajaran fisika yang diajarnya menjadi awal sebuah temuan baru. Bersama para siswanya, guru SMPN 2 Wanadadi Jawa Tengah ini menemukan bahwa campuran buah salak dengan air dapat menghasilkan tegangan sebesar 0,56 volt.

"Awalnya saya cuma memikirkan gimana anak-anak bisa terlibat total dalam pembelajaran. Aki itu kan cairan elektrolit, cairannya asam. Salak di daerah kami itu ada yang sangat asam, jadi siapa tahu bisa dipakai," ujar Sutikno seusai mempresentasikan hasil penelitiannya di depan dewan juri Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) 2008 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Depok, Senin (7/7).

Dari prinsip itulah Sutikno dan para siswanya mencoba dalam praktikum fisika. Apalagi Wanadadi adalah daerah penghasil salak yang cukup besar. Tiap bulan, menurut Sutikno, pasti ada panen salak. "Orang-orang di sana, termasuk anak didik saya, rata-rata memang hidup dari salak," katanya. Bahan-bahannya adalah buah salak, air, seng sebagai kutub negatif, dan tembaga sebagai kutub positif.

Awalnya, buah salak diblender dengan air dengan perbandingan 200 gram:200 ml, lalu dituang ke dalam setengah gelas air mineral. Seng dan tembaga berukuran masing-masing 5 cm yang telah dikaitkan dengan kabel penghantar kemudian dimasukkan ke gelas. Ketika diukur dengan multimeter digital, multimeter menunjukkan tegangan yang dihasilkan 0,56 volt, bahkan ketika dicoba kembali oleh Sutikno, sempat mencapai angka 0,6 volt. Sutikno mengatakan, tegangan listrik yang dihasilkan oleh jus salak ini dapat menghidupkan kalkulator bertegangan 3 volt atau jam digital 1,5 volt. Tentu saja Sutikno menjelaskan, dia harus membuat jus salak lebih banyak lagi hingga tiga gelas untuk 1,5 volt dan enam gelas untuk 3 volt. "Gelas-gelas berisikan jus salak tersebut diserikan hingga tegangannya akumulatif," ujar pria berusia 32 tahun ini.

Inovasi ini ditemukan Sutikno berdasarkan tuntutan kurikulum yang harus memberikan stimulan dan pengalaman nyata bagi siswa dalam proses pembelajaran untuk mandiri dan kreatif. "Paling tidak anak-anak punya pengalaman belajar dan kompetensinya tercapai. Fokus kami juga, alam sekitar dapat menjadi tempat belajar dan anak-anak menjadi lebih akrab dengannya," ujar Soetikno yang baru pertama kali mengikuti lomba ini karena diajak Djoko Harwanto, rekan gurunya dari sekolah yang sama.

Djoko sendiri sudah malang melintang dalam lomba-lomba karya ilmiah. Dalam presentasinya, dewan juri memuji temuan Sutikno dan memberikan masukan agar Sutikno mempertajam penelitiannya seperti dengan mengukur tingkat keasaman dan elektronnya untuk mencari tahu faktor apa yang paling berpengaruh.

"Ya kami belum sanggup untuk itu, alat-alatnya saja enggak lengkap," ujar Sutikno. Untuk itu dirinya berharap ada pihak-pihak yang mau memberikan perhatian terhadap infrastruktur yang memadai di sekolahnya untuk melanjutkan penelitian baterai salak tersebut.

Sumber : Kompas (7 Juli 2008)

Selengkapnya...

Luar Jawa berpotensi sebagai raja Bioetanol

Menipisnya pasokan minyak bumi berakibat melonjaknya harga hingga US$100/barel. Pemerintah pun semakin berat menanggung beban subsidi bahan bakar minyak. Menaikkan harga BBM menjadi salah satu pilihan. Langkah itu semestinya tidak perlu terjadi seandainya 1,25-juta hektar sagu di Papua dan Maluku, serta 2-juta aren di Minahasa Utara dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol.

Sagu salah satu sumber pati tertinggi. Setiap hektar sagu menghasilkan 25 ton pati. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang kadar pati beras dan jagung yang masing-masing hanya 6 dan 5,5 ton/ha. Bila diolah menjadi bioetanol bisa menghasilkan 4.000-5.000 liter/ha/tahun.

Seandainya sejuta hektar saja yang diolah menjadi etanol, dapat dihasilkan sekitar 4-miliar-5-miliar liter bietanol/tahun. Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan premium di Papua yang hanya 100-juta liter/tahun atau surplus 3,9-miliar-4,9-miliar liter/tahun. Dengan begitu, Papua justru menjadi pemasok kebutuhan bahan bakar di daerah lain.

Cukup

Potensi aren sebagai bahan baku etanol juga tak kalah hebat. Dari sebatang pohon Arenga pinata diperoleh 15-20 liter nira/hari. Nira itulah yang nantinya difermentasi menjadi bioetanol. Jika dalam setahun aren disadap selama 200 hari, total nira yang dihasilkan 3.000-4.000 liter/pohon. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 15 liter nira. Jadi, setiap pohon bisa menghasilkan 200 liter etanol/tahun. Bila seluruh populasi aren di Minahasa Utara itu diolah menjadi bioetanol, dapat dihasilkan 400-juta liter/tahun.

Itu baru potensi bioetanol yang dihasilkan dari tanaman liar di hutan-hutan. Belum lagi bila lahan kritis yang ada di masing-masing daerah juga digunakan untuk budidaya tanaman bahan baku bioetanol. Di Papua saja jumlah lahan kritis mencapai 2.935.375 ha. Seandainya seluruh lahan itu ditanami bahan baku bioetanol dengan produktivitas minimal 4.000 liter/ha/tahun, akan menghasilkan 11,7-miliar liter bioetanol/tahun.

Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan premium di Pulau Jawa yang mencapai 12-miliar liter/tahun. Jawa memang paling rakus mengkonsumsi bensin, yakni mencapai 70% dari total konsumsi bensin nasional. Namun, ia paling kurus potensi bioetanolnya, hanya 1,297-miliar liter/tahun. Bila Papua memanfaatkan kekayaan mereka untuk memproduksi bioetanol, ia akan jadi raja energi di tanahair.

Tak hanya Papua yang kaya sumber bioenergi. Pulau-pulau besar seperti Sumatera dan Kalimantan juga menyimpan potensi yang sama. Menurut Dr M Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, kedua pulau itu berpotensi menghasilkan masing-masing 11,6-miliar liter dan 11,8-miliar liter bioetanol/tahun. Dengan menggabungkan potensi kedua pulau itu saja, kebutuhan premium nasional yang mencapai 17-miliar liter/tahun dapat dipenuhi.

Sorgum

'Pilihlah bahan baku yang sesuai dengan potensi daerah,' ujar Roy Hendroko, staf ahli PT Rajawali Nusantara Indonesia yang juga menjadi konsultan ahli pada beberapa perusahaan yang mengembangkan bioenergi. Meski produktivitas aren paling tinggi bila diolah menjadi bioetanol-40.000 liter/ha/tahun-belum tentu cocok dibudi-dayakan di Sumatera dan Kalimantan. 'Bioetanol berbahan aren cocok dikembangkan di Minahasa Utara karena warga di sana memiliki budaya menyadap nira,' katanya.

Begitu juga dengan ubikayu. Walaupun di Lampung membentang perkebunan singkong, belum tentu di kawasan itu potensial dikembangkan bioetanol. Sebab, di sana marak produsen tepung tapioka. Bila industri bioetanol berdiri di Lampung, permintaan singkong akan meningkat sehingga menaikkan harga. Akibatnya menjadi bumerang bagi produsen bioetanol karena biaya bahan baku menjadi tinggi.

Sorgum manis, kini yang digadang-gadang menjadi 'kuda hitam' bahan baku bioetanol. Tanaman ini belum dimanfaatkan oleh industri mana pun. Jadi tak perlu khawatir mengganggu kebutuhan pakan maupun pangan. Produk-tivitasnya pun tak kalah tinggi. Bila yang dimanfaatkan adalah nira dari perasan batang, produktivitasnya sebanding dengan tebu yang dapat menghasilkan 5.000-6.000 liter bioetanol/ha/tahun.

Bagaimana dengan pengganti solar? Di Indonesia tumbuh 62 jenis tanaman penghasil minyak. Minyak nabati itu dapat diolah dengan transesterifikasi menjadi biodiesel. Jarak pagar Jatropha curcas salah satu tanaman yang paling berpotensi sebagai pengganti solar. Dari biji kering dapat dihasilkan rata-rata 1.500 liter minyak/ha/tahun.

Menurut catatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, setidaknya 19,8-juta hektar lahan cocok untuk ditanami jarak pagar. Lahan itu tersebar hampir di seluruh provinsi. Jika seluruhnya ditanami jarak, minyak nabati yang dihasilkan mencapai 29,7-miliar liter. Setelah ditransesterifikasi menghasilkan 23,76-miliar liter biodiesel. Jumlah itu hampir memenuhi konsumsi solar nasional mencapai 26-miliar liter/tahun. Dengan begitu, tak perlu risau meski harga minyak dunia terus merangkak naik. (Imam Wiguna)

sumber : Trubus

Selengkapnya...

26 April 2008

Metode Takakura Ubah Sampah Jadi Kompos

Bandung (ANTARA News) - Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pengurus LSM Gema Pelikan, DR Sriharyati memperkenalkan pengolahan sampah Takakura atau "Takakura Home Method", sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos dengan mudah.

Dalam kesempatan sosialisasi kepada anggota Lions Club Bandung di Bandung, Kamis malam, Sriharyati mengatakan metode pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos mempunyai beberapa keuntungan dan tidak merepotkan.

"Selain tidak menyebabkan bau, metode pengolahan sampah ini juga tidak membutuhkan biaya mahal. Bahkan, metode ini juga sangat sederhana dan ramah lingkungan," papar Sri.

Menurut Sri, metode pengolahan sampah yang satu ini sangat mengandalkan udara atau oksigen. "Prinsip metode pengomposan ini sangat mengandalkan udara. Yakni, udara dibutuhkan sebagai asupan penting dalam poses pertumbuhan mikroorganisme," tuturnya.

Lebih lanjut, Sri memaparkan proses pengomposan Takakura yang bisa dilakukan siapa saja. "Metode Takakura ini dilakukan dengan cara memasukan sampah organik, idealnya sampah organik tercacah dimasukan ke dalam keranjang setiap harinya kemudian dilakukan kontrol suhu dengan cara pengadukan serta penyiraman air," ungkapnya.

Bahkan, menurut Sri, salah satu permasalahan dari sampah yang selama ini mengganggu yakni `bau`, dengan metode ini menjadi sirna sama sekali. "Bau sampah yang biasa kita hirup dari tempat sampah rumah kita, dengan metode ini justru bau tersebut menghilang," terang Sri.

Kelebihan teknik olah sampah Takakura, yakni adanya inokulan (bibit) bakteri yang bisa dibuat sendiri dalam satu kali proses pengomposan, selanjutnya bisa didaur ulang.

"Dalam metode ini tidak ada yang harus dibeli secara rutin, berbeda dengan proses metode pengomposan lainnya, dan semua rumah tangga bisa melakukannya, meski tak memiliki halaman luas sekalipun," kata dia.

Sri juga mengharapkan partisipsi dari masyarakat untuk mengolah sampahnya sendiri. "Permasalahan sanitasi ini juga menjadi perhatian dunia. Bahkan, sanitasi itu sendiri menjadi cerminan suatu keluarga sampai kota dan negara. Selain itu, permasalah sampah Kota Bandung menjadi tanggungjawab seluruh elemen warga Bandung," ujar Sri.

Sosialisasi metode pengomposan Takakura terkait hari Bumi tersebut terungkap dalam acara yang diselenggarakan oleh Gerakan Masyarakat Peduli lingkungan (Gema Pelikan) bekerja sama dengan Lions Club Bandung Ceria.(*)

Refference : antara.co.id Selengkapnya...