Tsunami di Indonesia memiliki pola pengulangan menarik, rata-rata terjadi dalam kurun waktu dua tahunan berdasarkan pola kejadian-kejadian tsunami dalam rentang waktu 400 tahun terakhir.
"Dari 217 kejadian tsunami yang tercatat sejak 1608 hingga sekarang, dapat ditarik sebuah pola terutama 15 tahun terakhir yaitu terjadi tsunami dua tahun sekali di Indonesia," kata peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, dalam workshop tsunami di Yogyakarta, Sabtu (15/11).
Menurut Eko, 91 persen tsunami di Indonesia dipicu oleh gempa bumi dasar laut dan hanya 9 persen dipicu oleh letusan gunung api. Meski kejadian tsunami memiliki pola pengulangan statistik tertentu, namun peneliti tidak dapat memastikan tempat dan besar tsunami yang akan terjadi.
Pada 1987 terjadi tsunami di NTT, Flores Timur dan Pulau Antar dengan korban 83 orang meninggal dunia, dua tahun kemudian kembali terjadi tsunami di NTT dan Pulau Alor, kali ini memakan korban tujuh orang meninggal dunia. Pada 1992, NTT kembali diterjang tsunami, lalu Banyuwangi pada 1994, tahun 1996 di Palu dan Biak, di Maluku pada 1998, tahun 2000 di Banggai, 2004 terjadi tsunami besar di Aceh, Pangandaran pada 2006 dan akhirnya Bengkulu pada 2007.
Catatan-catatan terjadinya tsunami itu menunjukkan Indonesia adalah daerah yang rawan tsunami, namun tidak banyak peneliti dan hasil penelitian mengenai tsunami di tanah air. "Kondisi ini sangat ironis, sehingga ketika ada kejadian tsunami, Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar," katanya.
Ia menunjuk tsunami besar di Aceh pada 2004 dan tsunami akibat Krakatau meletus pada 1883 sebagai dua dari 59 tsunami besar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.
Di kedua bencana itu, Indonesia menderita korban terbanyak, masing-masing 300 ribu orang meninggal di Aceh dan 40 ribu orang meninggal saat tsunami Krakatau.
Sumber : Suara Merdeka (15 November 2008)
Selengkapnya...
17 November 2008
Siklus Tsunami di Indonesia Dua Tahunan
Pasca Gempa Gorontalo Lokon dan Soputan Diawasi
Bandung (ANTARA News) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Bandung, meningkatkan pengawasan terhadap Gunung Api Lokon dan Soputan pasca gempa bumi tektonik 7,7 Skala Richter (SR) di Gorontalo.
"Gempa bumi Gorontalo cukup hebat, Gunung Lokon dan Soputan kami awasi intensif untuk mengantisipasi dampak gempa di sana," kata Kepala PVMBG, DR Surono di Bandung, Senin.
Ia menyebutkan, gempa bumi dengan kekuatan 7,7 SR itu sangat potensial mempengaruhi aktivitas kedua gunung api yang termasuk aktif di Provinsi Sulawesi Utara.
Status Gunung Soputan dan Lokon saat ini sama-sama Waspada (Level II). PVMBG menetapkan status waspada untuk Gunung Soputan pada 21 Oktober 2008 sedangkan Gunung Lokon berstatus waspada sejak 28 Februari 2008.
"Pengawasan dilakukan di Posko Pengawasan Gunung Api (PGA) masing-masing, aktivitas gunung api itu sendiri saat ini masih seperti biasa," kata Surono.
Terkait Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) yang terjadi di Gorontalo, Senin dinihari waktu WIB, menurut Surono, sebagai akibat aktifitas penunjaman sesar Sulawesi Utara.
"Sesar itu naik sampai 90 derajat, membentuk pada penunjaman sesar Sulawesi Utara," katanya.
Surono menyebutkan, Provinsi Gorontalo termasuk jalur sesar aktif Sulawesi Utara. Menurut catatan PVMBG, gempa bumi dengan kekuatan hebat di Gorontalo terjadi pada 1941, 1990 dan 1990.
Gempa bumi pada 18 April 1990 mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan gempa pada 20 November 1991 mengakibatkan ribuan rumah rusak.
Pada kesempatan itu, Kepala PVMBG mengingatkan pemerintah dan warga di sekitar perbukitan untuk mengantisipasi potensi gerakan tanah sebagai dampak gempa bumi itu.
"Gempa bumi itu dipastikan mengakibatkan retakan-retakan tanah, bila terisi air hujan jelas potensi mengakibatkan longsor. Hal itu terjadi di Tibung pada peristiwa gempa bumi 1941 lampau," kata Surono.
Sumber : Antara
Selengkapnya...
15 November 2008
Longsor Di Cianjur Akibat Penggundulan Hutan
TEMPO Interaktif, Cianjur:Longsor yang terjadi di Kecamatan Campaka, Cianjur, disebabkan penggundulan hutan di wilayah tersebut. Saat mengunjungi pengungsi, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan hutan di kawasan hulu telah habis ditebang. “Ini sudah bukan dugaan lagi, tapi fakta bahwa di daerah hulu sudah terjadi penggundulan hutan,” kata Heryawan saat mengunjungi tempat penampungan pengungsi.
Bencana alam longsor terjadi Kamis dinihari lalu di Kampung Nyalindung, Girimukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Gubernur juga menyerahkan bantuan logistik yang diterima oleh Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh. "Kami turut prihatin dan bela sungkawa atas peristiwa ini," kata Heryawan.
Bantuan logistik adalah upaya jangka pendek untuk membantu para pengungsi dan keluarga korban. Sementara rencana jangka panjang adalah merehabilitasi kawasan hutan.
Karena itu, kata Heryawan, harus ada kesadaran dari masyarakat sendiri dalam menjaga kelestarian lingkungan sekitar. Sebab itu dinilai cukup efektif dan efisen untuk menanggulangi bencana tanah longsor.
Mulai saat ini, kata dia, masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan rawan pergerakan tanah, harus diingatkan agar segera berpindah ke tempat lainnya yang lebih aman. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, akan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk segera memikirkan rencana relokasi bagi para pengungsi.
Dananya akan diambil dari dana tak tersangka Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Jawa Barat.
Sementara itu bantuan yang diberikan antara lain 3 ton beras, 400 bungkus biskuit, sarden sebanyak 1.500 kg, 600 botol sambal, 600 botol kecap, 250 potong kecap, 125 tikar, serta bantuan kesehatan lainnya.
Sedangkan untuk para keluarga korban tewas, diberikan santunan Rp 2 juta per keluarga. "Semoga bantuan ini bisa bermanfaat dan membantu keperluan logistik bagi para pengungsi," kata Heryawan.
Kepala Desa Girimukti, Daman, mengatakan warga pengungsi yang ditampung di kantor Desa Girimukti seluruhnya berjumlah 224 jiwa yang berasal dari tiga wilayah, yakni Kampung Nyalindung, Bolang, dan Pojok Bolang. "Kami juga telah membuat posko kesehatan, posko bencana, serta dapur umum, untuk keperluan para pengungsi," kata Daman.
Sumber : Tempo
Selengkapnya...
07 November 2008
UGM Yogyakarta hancur akibat angin kencang.... Oh kampusku
YOGYAKARTA — Angin mengamuk di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Akibatnya, sejumlah pohon ambruk dan menyebabkan atap sejumlah gedung porak poranda. Staf Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Agus Triyanto, menjelaskan, berdasar keterangan para saksi dan arah robohnya pepohonan, besar kemungkinan bencana itu disebabkan oleh angin kencang, bukan puting beliung. "Kalau puting beliung kan ada pohon yang terangkat. Nah, yang ini kan hanya roboh," ujarnya. Dari pantauan, pohon-pohon yang roboh umumnya mengarah ke utara, termasuk yang berukuran besar. Namun, ada pula sebuah pohon beringin di utara Gelanggang Mahasiswa UGM yang roboh ke selatan. Agus menjelaskan, angin kencang seperti ini biasa disebut down draff atau pelepasan massa udara dari awan cumulus nimbus (CB) ke tanah. Gerakan angin yang vertikal menghempas keras permukaan tanah yang sejak siang tersinari matahari. "Kebetulan, sepanjang siang, di Yogyakarta tekanan awan CB berada di atas kampus UGM. Demikian pula tekanan udara di atas permukaan tanah, paling kecil berada di sekitaran UGM," jelasnya. Sementara itu, hingga pukul 17.40, sebagian besar pepohonan yang tumbang belum disingkirkan. Sejumlah ruas jalan di boulevard UGM pun masih tertutup, seperti perempatan Jalan Kaliurang atau barat daya gedung Graha Sabha dan jalan sebelah selatan Gama Book Store. Beberapa mobil pemadam kebakaran dari Kota Yogyakarta dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta nampak datang ke lokasi. Angin kencang yang baru kali pertama terjadi di Yogyakarta selama musim penghujan kali ini juga mematikan lampu lalu lintas, salah satunya di perempatan Toko Buku Gramedia di Jalan Sudirman. Sejumlah polisi terpaksa turun tangan mengatur lalu lintas. Sejumlah genting di teras Toko Buku Gramedia juga terlepas oleh angin.
Sebagian pohon yang ambruk menimpa atap gedung. Sebuah pohon akasia menimpa atap Kantor Pos yang ada di lingkungan UGM. Gedung Gelanggang Mahasiswa di Jalan Kaliurang tidak hanya tertimpa sebuah pohon jati yang ambruk, tetapi atapnya juga rusak tersapu angin. Sebuah mobil yang diparkir di depan Kantor Pos UGM juga tertimpa pohon sehingga kacanya pecah.
Pohon-pohon yang bertumbangan juga merusak atap dan menyebabkan sejumlah kaca gedung pecah. Gedung-gedung lainnya yang rusak, antara lain Wisma Kagama, Kopma UGM, Kantor Bank BNI 46, Kantor Bank Mandiri, Gedung Purna Budaya, dan Gedung PSKK.
Selain itu, sejumlah pohon besar yang bertumbangan juga menutupi jalan. Akibat hal tersebut, arus lalu lintas di sekitar UGM tersendat. Bunderan UGM, Jalan Kaliurang, dan Jalan Cik Di Tiro macet total serta sejumlah arus lalu lintas dialihkan.
Sejumlah gedung seperti Gedung Gelanggang UGM, mengalami kerusakan kecil di bagian atap. Sejumlah gentingnya tampak melorot. Genting-genting di atap gedung UPT Komputer juga bergeser ke bawah. Tempat parkir kantor BNI juga rusak.
Atap gedung Wisma UGM juga rusak. Papan nama di depan gedung roboh. Atap Gedung Purna Budaya juga rusak berat. Sementara itu, puluhan gerobak milik pedagang kaki lima juga berhamburan.
Menurut sejumlah saksi, termasuk saya sendiri yang sedang berada di fakultas biologi UGM, angin kencang yang menyertai hujan deras terjadi pada Jumat (7/11) sekitar pukul 14.45. Saat puting beliung mendera, mendung gelap berarak dari arah selatan ke utara dan balik lagi ke selatan. Dua Pohon besar di belakang fakultas biologi pun tumbang dan menyebabkan jalan tertutup.
Para pedagang kaki lima yang biasanya berdagang di bawah pohon sempat kocar-kocar. Hampir semua gerobak pedagang roboh akibat kuatnya angin. Sebagian pedagang dan orang yang tengah berlindung di bawah pohon terpaksa melarikan diri ke tempat yang lapang seperti di tengah Boulevard UGM.
Sisa amukan puting beliung dapat dilihat pula dari gerobak-gerobak pedagang yang berserakan di tepi jalan dan pecahan piring. Sejauh ini belum dilaporkan adanya korban jiwa.
Selain itu, berdasarkan observasi langsung di lokasi, terlihat SD percobaan juga hancur. Sejumlah perumahan dosen ikut rusak. Banyak warga menyaksikan genteng dan seng terbang terbawa angin besar saat angin tiba.
Sumber : kompas dan penmgamatan langsung
Selengkapnya...
04 November 2008
Banjir Kiriman Genangi Jakarta
Jakarta (ANTARA News) - Banjir kiriman mulai menggenangi sebagian Jakarta sejak beberapa hari yang lalu.
Setelah Jakarta Timur tergenang banjir kiriman pada Minggu (2/11), giliran dua kelurahan di Jakarta Selatan yang terendam pada Senin (3/11).
Data Satkorlak PBP mencatat sebanyak 24 RT di Kelurahan Bukit Duri dan Kebon Baru tergenang banjir dengan ketinggian 10-40 sentimeter.
Tiga RW di Kelurahan Bukit Duri terendam air setinggi 10-20 sentimeter sejak pukul 03.00 WIB namun mulai susut ketika sore hari.
Sedangkan di Kelurahan Kebon Baru ada tiga RT yakni RT 09, 10 dan 17 yang genangan airnya cukup tinggi mulai dari 25-40 sentimeter.
Satkorlak telah menentukan lokasi pengungsian dan menyiapkan pos kesehatan dan dapur umum meskipun menyatakan belum ada pengungsi akibat banjir kiriman tersebut.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan bahwa Jakarta telah siap untuk menghadapi bencana banjir tahunan.
Gubernur memaparkan bahwa Pemprov DKI telah melaksanakan program pengendalian banjir dan telah melakukan pengecekan sarana dan prasarana yg dibutuhkan,
"Kita juga sudah mlakukan gladi bersih. Saya kira kita siap untuk menghadapi (banjir) itu," katanya.
Meskipun demikian, Gubernur menyebut persiapan itu belum ideal dalam artian belum bisa mengatasi banjir secara keseluruhan.
"Tapi sekali lagi, `benchmark` kegiatan itu jangan diharapkan bisa 100 persen ideal karena yang dilakukan baru sampai disitu, belum selesai. Dalam arti belum bisa mengatasi banjir secara keseluruhan," paparnya.
Namun Gubernur menyebut bahwa penanganan banjir akan dilakukan secara konsisten.
Ia mencontohkan Waduk Sunter 1B yang susah dibebaskan tanahnya akan dicoba diganti di lahan lain dengan luas yang sama.
"Kita cari ada gak lahan lain supaya pola dasar
pengendalian banjir itu secara konsisten bisa dikerjakan," ujarnya.
Selengkapnya...
30 Oktober 2008
Jakarta Terancam Banjir lagi
Jakarta (ANTARA News) - Banjir besar diperkirakan masih akan mengancam Jakarta saat musim hujan yang diperkirakan jatuh pada bulan Januari sampai Februari 2009 sehingga masyarakat diminta waspada.
"Masyarakat yang rumahnya terkena banjir pada tahun 2007 diperkirakan akan mengalami hal yang sama pada 2009, bahkan cakupannya bisa meluas kepada masyarakat yang tahun 2007 tidak mengalami," kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSC) Pitoyo Subandrio di Jakarta, Selasa.
Mengantisipasi hal itu, Pitoyo mengatakan, pemerintah telah menyiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan apabila banjir terjadi diantaranya alat berat, perahu karet, 35 ribu karung plastik, 3 ribu bronjong kawat, 22 pompa mobil dan 15 pompa yang sudah berada di lokasi-lokasi rawan banjir.
Menurutdia, peralatan tersebut akan digunakan untuk membantu masyarakat memerlukan peralatan pada saat terjadi banjir.
Disamping itu, posko banjir juga telah diaktifkan selama 24 jam untuk memantau menggunakan telemetri mengenai intensitas curah hujan, debit sungai, tinggi muka air dan perkiraan perjalaan air dari Katulampa hingga Manggarai sebagai antisipasi dini
banjir.
Selain itu untuk Balai Besar Wilayah Ciliwung Cisadane (BBWSCC) telah melakukan upaya penanggulangan banjir diantaranya rehabilitasi situ-situ di Jabodetabek, melanjutkan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) dan normalisasi sungai.
Normalisasi sungai dilakukan di Sungai Mookervart dan Cengkareng drain untuk mengurangi banjir yang terjadi di daerah rawan banjir di Jakarta Barat seperti Rawa Buaya.
Di Jakarta Timur juga telah dibangun tempat parkir air seluas 50 ribu meter
persegi untuk menampung air dari Kali Bekasi.
Pembangunan BKT sendiri, yang melintang dari Cipinang hingga Marunda, sudah mencapai 60 persen. Kanal sepanjang 23,5 kilometer tersebut sudah tergali sepanjang 14 Km namun masih terpisah-pisah. Adanya kanal ini untuk mengalirkan aliran 5 sungai di Jakarta yakni Sungai Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat, dan Cakung sehingga
melindungi daerah di Jakarta Utara dan sebagian Jakarta Timur.
Penyelesaian BKT sangat tergantung dari pembebasan lahan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang ditargetkan akan selesai pada April 2009. BKT sendiri ditargetkan selesai akhir 2009 dan menelan biaya Rp 4,9 triliun.
"Kendala kami dalam melanjutkan pembangunan Banjir Kanal Timur adalah pembebasan lahan yang sudah terlanjur dihuni masyarakat," ujar Pitoyo.
Disamping upaya-upaya tersebut diatas, masyarakat juga diminta untuk dapat mengantisipasi banjir agar terhindar dari kerugian yang lebih besar.
Pitoyo menunjuk contoh, SD Kebon Baru Jakarta Selatan yang sudah hidup harmonis dengan banjir dimana lantai bawah digunakan sebagai arena bermain atau tempat parkir sementara ruang kelas berada di lantai atas.
Sumber : Antara
Selengkapnya...
25 Juli 2008
Biopori: Teknologi Solusi Banjir
(Erabaru.or.id) — Teknologi biopori ini ditemukan oleh Ir. Kamir R Brata MS dosen ilmu tanah, air, dan konservasi lahan Fakultas Pertanian IPB.
Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat aktifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Prinsip dari teknologi ini adalah menghindari air hujan mengalir ke daerah yang lebih rendah dan membiarkannya terserap ke dalam tanah melalui lubang resapan tersebut.
Teknologi ini bisa diterapkan di kawasan perumahan yang 100% kedap air, di saluran air, di rumah-rumah yang memiliki lahan terbuka bahkan untuk kawasan persawahan di lahan miring.
Tak perlu khawatir tanah akan menjadi lunak, karena air yang terserap akan tersimpan menjadi cadangan air di bawah tanah. Begitu pun tidak ada bau yang ditimbulkan dari sampah karena terjadi proses pembusukan secara organik.
Cara pembuatan lubang ini ternyata cukup sederhana. Diawali dengan pembuatan lubang dan memasukkan sampah organik ke dalam lubang tersebut. Sampah-sampah ini kemudian diurai oleh organisma pengurai sehingga terbentuk pori-pori. Dengan cara ini, air hujan yang turun tidak membentuk aliran permukaan, melainkan meresap ke dalam tanah melalui pori-pori.
Langkah-langkah membuat lubang resapan biopori (LRB):
1. Dengan sebuah bor LRB kita bisa membuat lubang, untuk memudahkan pembuatan lubang bisa dibantu diberi air agar tanah lebih gembur.
2. Alat bor dimasukkan dan setelah penuh tanah (kurang lebih 10 cm kedalaman tanah) diangkat, untuk dikeluarkan tanahnya, lalu kembali lagi memperdalam lubang tersebut sampai sedalam 80 cm dan diameter 10 cm.
3. Pada bibir lubang dilakukan pengerasan dengan semen atau potongan pendek pralon. Hal ini untuk mencegah terjadinya erosi tanah.
5. Kemudian di bagian atas diberi pengaman besi supaya tidak terperosok ke dalam lubang.
6. Masukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman) ke dalam LRB. Jangan memasukkan sampah anorganik (seperti besi, plastic, baterai, stereofoam, dll)!
7. Bila sampah tidak banyak cukup diletakkan di mulut lubang, tapi bila sampah cukup banyak bisa dibantu dimasukkan dengan tongkat tumpul, tetapi tidak boleh terlalu padat karena akan mengganggu proses peresapan air ke samping.
Pemeliharaan LRB:
1. Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik
2. Sampah organik dapur bisa diambil sebagai kompos setelah dua minggu, sementara sampah kebun setelah dua bulan. Lama pembuatan kompos juga tergantung jenis tanah tempat pembuatan LRB, tanah lempung agak lebih lama proses kehancurannya. Pengambilan dilakukan dengan alat bor LRB.
3. Bila tidak diambil maka kompos akan terserap oleh tanah, LBR harus tetap dipantau supaya terisi sampah organik.
Lubang resapan biopori merupakan teknologi tepat guna untuk mengurangi genangan air dan sampah organik serta konservasi air bawah tanah. Untuk setiap 100 m2 lahan idealnya Lubang Resapan Biopori (LRB) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antara 0,5 - 1 m. Dengan kedalam 100 cm dan diameter 10 cm setiap lubang bisa menampung 7,8 liter sampah. Sampah dapur dapat menjadi kompos dalam jangka waktu 15-30 hari, sementara sampah kebun berupa daun dan ranting bisa menjadi kompos dalam waktu 2-3 bulan.
Selengkapnya...Waspadai Pergeseran Lempeng Indo-Australia dan Eurasia
Yogyakarta (ANTARA News) - Pergeseran lempeng Indo-Australia dan Eurasia tetap perlu diwaspadai, apalagi terkait dengan dua gempa terakhir yang terjadi pada 12 dan 20 Juli 2008 dengan pusat gempa di dalam laut di Samudera Hindia.
"Meski pusat gempa berada jauh di tengah samudera, namun dua gempa terakhir, 12 dan 20 Juli patut dicermati meskipun tidak berpotensi menimbulkan tsunami," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, Tiar Prasetya, Minggu.
Pada 12 Juli pukul 17.34 WIB terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 5,0 Skala Richter (SR) yang mengguncang wilayah Kabupaten Bantul dan sebagian Kota Yogyakarta.
Pusat gempa di laut pada kedalaman 20 km, dan berada di posisi 8,96 Lintang Selatan (LS) - 110,45 Bujur Timur (BT) atau sekitar 112 km ke arah Barat Daya dari kota Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), atau 130 km ke arah Tenggara dari Kota Yogyakarta. Gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Kemudian Minggu, 20 Juli pukul 13.11 WIB gempa bumi berkekuatan 5,9 SR mengguncang wilayah DIY, Jawa Tengah dan sebagian wilayah Jawa Timur.
Pusat gempa di laut dengan kedalaman 10 km. Posisinya pada 9 LS - 111.24 BT, atau berada di 135 km Tenggara Wonosari (DIY), atau 145 km Barat Daya Blitar (Jawa Timur), 155 km Barat Daya Madiun (Jawa Timur), atau 157 km Tenggara Bantul (DIY). Gempa tersebut juga tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Ia mengatakan aktivitas dari pergeseran lempeng Indo-Australia dan Eurasia selama ini memberikan pengaruh yang signifikan pada gempa yang berpusat di laut yang terjadi di kawasan Aceh hingga Nias, Pangandaran sampai Banyuwangi, dan Bali.
"Apabila gempa di laut di kawasan tersebut kekuatannya di atas 6,5 skala Richter, harus diwaspadai karena bisa menimbulkan tsunami," katanya.(*)
sumber : antara
Selengkapnya...