31 Juli 2009

Daur Ulang 1 Ponsel Kurangi 12.000 Kg Emisi CO2

Nokia mengajak masyarakat Indonesia untuk turut serta menjadi bagian dari gerakan peduli lingkungan secara global. Produsen ponsel terbesar di dunia itu telah memulai program tersebut dengan mengajak masyarakat untuk memiliki tanggung jawab pribadi akan daur ulang ponsel, dengan memberikan ponsel dan aksesoris mereka yang sudah tidak terpakai.

"Sebuah survei secara global telah dilakukan oleh Nokia yang menunjukkan bahwa tiga dari empat orang tidak pernah berpikir untuk mendaur ulang ponsel bekas mereka, dan bahkan mereka tidak menyadari bahwa ponsel dan aksesoris bekas dapat didaur ulang," kata Nokia Regional Manager, Market Environmental Affairs, Francis Cheong pada acara Media Workshop 'Let's Manage Our e-waste' di Jakarta, Kamis (30/7/2009).

Ia mencontohkan, sebuah ponsel bekas yang telah didaur ulang dapat mengurangi emisi gas karbondioksida sebesar 12.585 kg. Jika semua orang yang memiliki ponsel di seluruh dunia ini, yakni sebesar tiga miliar, dan paling tidak hanya satu saja dari mereka yang mendaur ulang ponselnya, maka akan mengurangi bahan baku sebanyak 240.000 ton serta mengurangi gas rumah kaca yang setara dengan 4 juta kendaraan bermotor.

"Gerakan daur ulang e-waste secara global dimulai dari kesadaran diri sendiri dan partisipasi yang akan menghasilkan kontribusi signifikan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan secara jangka panjang," Francis menambahkan.

Nokia telah memulai program daur ulang ini di tahun 1997 di Swedia dan Inggris. Sejak saat itu, Nokia telah memiliki lebih dari 5.000 titik penempatan box daur ulang ponsel dan aksesoris di 85 negara seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Untuk wilayah Indonesia Nokia bekerja sama dengan TES-AMM, sebuah perusahaan daur ulang e-waste, untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi dalam program daur ulang e-waste dengan memberikan ponsel dan aksesoris bekas mereka untuk didaur ulang.

Menurut Technical Advisor TES-AMM Bambang N Gyat, sebuah ponsel dibuat dari berbagai bahan seperti plastik di case atau cover, dan juga berbagai elemen logam di peralatan elektronik seperti charger dan aksesoris yang dapat didaur ulang.

"Namun, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui bahwa produk-produk yang kita gunakan setiap hari dapat diproduksi dari bahan-bahan yang telah melalui proses daur ulang. Di samping memaksimalkan sumber daya melalui daur ulang e-waste, kita juga dapat turut menghemat energi," kata Bambang. (okezone.com)

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar