17 November 2008

Siklus Tsunami di Indonesia Dua Tahunan

Tsunami di Indonesia memiliki pola pengulangan menarik, rata-rata terjadi dalam kurun waktu dua tahunan berdasarkan pola kejadian-kejadian tsunami dalam rentang waktu 400 tahun terakhir.

"Dari 217 kejadian tsunami yang tercatat sejak 1608 hingga sekarang, dapat ditarik sebuah pola terutama 15 tahun terakhir yaitu terjadi tsunami dua tahun sekali di Indonesia," kata peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto, dalam workshop tsunami di Yogyakarta, Sabtu (15/11).


Menurut Eko, 91 persen tsunami di Indonesia dipicu oleh gempa bumi dasar laut dan hanya 9 persen dipicu oleh letusan gunung api. Meski kejadian tsunami memiliki pola pengulangan statistik tertentu, namun peneliti tidak dapat memastikan tempat dan besar tsunami yang akan terjadi.

Pada 1987 terjadi tsunami di NTT, Flores Timur dan Pulau Antar dengan korban 83 orang meninggal dunia, dua tahun kemudian kembali terjadi tsunami di NTT dan Pulau Alor, kali ini memakan korban tujuh orang meninggal dunia. Pada 1992, NTT kembali diterjang tsunami, lalu Banyuwangi pada 1994, tahun 1996 di Palu dan Biak, di Maluku pada 1998, tahun 2000 di Banggai, 2004 terjadi tsunami besar di Aceh, Pangandaran pada 2006 dan akhirnya Bengkulu pada 2007.

Catatan-catatan terjadinya tsunami itu menunjukkan Indonesia adalah daerah yang rawan tsunami, namun tidak banyak peneliti dan hasil penelitian mengenai tsunami di tanah air. "Kondisi ini sangat ironis, sehingga ketika ada kejadian tsunami, Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar," katanya.

Ia menunjuk tsunami besar di Aceh pada 2004 dan tsunami akibat Krakatau meletus pada 1883 sebagai dua dari 59 tsunami besar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.

Di kedua bencana itu, Indonesia menderita korban terbanyak, masing-masing 300 ribu orang meninggal di Aceh dan 40 ribu orang meninggal saat tsunami Krakatau.

Sumber : Suara Merdeka (15 November 2008)

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar