16 November 2008

Pencemaran Minyak di Indramayu Belum Teratasi

INDRAMAYU, SENIN- Hingga saat ini, sekitar 30 persen area pesisir Indramayu belum bersih dari limbah minyak mentah yang tertumpah dari kapal tangker Arendal milik PT Pertamina saat memasok minyak mentah ke Kilang Balongan Unit Pengolahan VI, pertengahan September lalu.


Humas Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan, Darijanto, Senin (3/11), menyatakan, pihaknya terus melakukan pembersihan tahap II meskipun itu tidak mudah.

Adapun ganti rugi karena pencemaran yang dialami petani tambak dan nelayan, akan diganti oleh Pertamina. Data berapa jumlah petambak dan luas tambak yang tercemar, masih didata tim ahli independen.

Di tempat terpisah, Kepala Subbidang Lingkungan Hidup Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Indramayu Aep Surahman menyatakan, pembersihan tahap kedua tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Sebab, pembersihan harus dilakukan secara manual, terutama pada tanaman mangrove.

Caranya, dengan dikerik dan disekop. Adapun teknik lainnya, dengan menguapkan limbah yang menempel di batu dan mencairkan minyak yang membeku karena dingin.

Secara keseluruhan, limbah dari tumpahan kapal tangker Arendal itu telah mencemari 13 desa di empat kecamatan Indramayu. Totalnya, ekosistem pesisir serta area tambak milik warga di sepanjang 48 kilometer pantai Indramayu, tercemar. Hingga kini, pendataan kerugian materi serta lingkungan masih dilakukan, padahal pencemaran sudah terjadi 1,5 bulan lalu.

Data sementara, pencemaran itu menyebabkan dua juta batang mangrove di empat kecamatan tercemar dan rusak. Dua kecamatan mengalami kerusakan paling parah, yakni Pasekan dan Indramayu.

Menurut Aep, kesulitan untuk membersihkan limbah minyak terutama karena limbah menempel pada batang dan daun mangrove, serta tertimbun di dalam tanah dan sekitar akar mangrove menyebabkan banyak tanaman mangrove rusak.

Potensi mangrove yang tercemar di empat kecamatan, yakni di Kecamatan Pasekan, Cantigi, Balongan, dan Indramayu, diperkirakan sebanyak 2.875.000 batang, yang tertanam di 1.360 hektar (ha). Potensi kerusakan terbesar di Kecamatan Pasekan, karena memiliki 860.000 batang mangrove.

Di kecamatan lainnya, Kecamatan Cantigi, ada 750.000 batang mangrove yang tertanam di 275 ha, dan di Kecamatan Balongan ada 150.000 batang mangrove. Adapun di Kecamatan Indramayu terdapat sekitar 1 juta ba tang pohon, yang terbanyak di Desa Pabean Udik, mencapai 915.00 batang pohon tertanam di 303 ha.

Menurut Dedi Rahmat, Kepala Seksi Pemantauan Pencemaran Dinas Pertambangan dan Lingkungan Hidup Indramayu, limbah berpotensi mencemari 12.866 hektar tambak udang dan bandeng. Lahan tambak yang terluas yang berpotensi terpapar limbah adalah di Kecamatan Cantigi, mencapai 7.000 ha yang dimilki 1.876 petambak.
Sumber : Kompas

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar