05 November 2008

Isu Ekonomi dan Bush di Belakang Kemenangan Obama

Oleh A. Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) - Kalimat pertama dari editorial New York Times hari ini adalah, seorang warga Amerika bernama Barack Hussein Obama, anak dari seorang perempuan kulit putih yang menikah dengan seorang pria kulit hitam yang tak begitu dikenalnya dan kemudian dibesarkan oleh kakek neneknya nun jauh di luar pusat kekuasaan dan kemakmuran Amerika, terpilih menjadi Presiden AS ke-44.

Harian ini melanjutkan, dengan mempertahankan fokus dan keyakinannya yang luar biasa, Obama tak lagi bisa dibendung lawan-lawannya dengan pertamakali mengubur ambisi perempuan AS paling menginginkan menjadi Presiden AS (Hillary Clinton), lalu menaklukan John McCain yang selama kampanye menebarkan kemarahan dan ketakutan pada rakyat AS.



Obama, sebut Times, telah memenangkan pemilu ini karena mampu membongkar kekeliruan pemerintah sekarang yang gagal melindungi warga negaranya dan memang terasa oleh sebagian besar warga AS.

Dia tidak menawarkan satu pemerintahan yang bisa mengatasi semua persoalan, melainkan menjanjikan membentuk pemerintahan yang berdasarkan pada kekuatan individu warga AS sehingga ekonomi bisa diatur lebih adil, kualitas udara dan stok pangan dijaga, si sakit pasti diobati, dan semua anak AS dididik sehingga mampu bersaing di dunia yang mengglobal ini.

Obama menarik warga AS untuk berdampingan dengannya karena dia merasakan kegusaran sebagian besar warga AS yang ingin perang yang hanya merugikan AS itu diakhiri.

Tapi diantara itu semua, persoalan ekonomilah yang paling menyedot warga AS untuk memilih Obama, apalagi formula ekonomi Obama memang mempesona sebagian terbesar rakyat AS yang belakangan ini melihat ekonomi negerinya diobrak abrik asing di mana perusahaan-perusahaan dan aset nasional dikendalikan serta dikuasai asing, termasuk obligasi dan pasar uangnya.

Obama menjanjikan pada bangsa Amerika bahwa dia tak akan melakukan kebijakan ekonomi ala Republik yang selalu berjanji memakmurkan seluruh rakyat tetapi malah menciptakan jutaan orang tersisih, bahkan terpental gara-gara praktik ekonomi yang rakus.

Kekecewaan dan kemarahan terhadap Bush dan Republik inilah yang membuat jutaan warga AS yang biasanya apatis tiba-tiba mendatangi bilik-bilik suara di seantero negeri, bahkan itu terjadi di negara-negara bagian yang selama ini disebut "swing state" atau negara bagian dengan massa mengambang (tidak condong ke Republik maupun Demokratik).

Membelot

Empat tahun lalu, jumlah anggota Demokrat aktif dan Republik hampir sama, namun kini yang menyatakan dirinya Republik dan Demokrat berbeda jauh, yaitu 32 persen Republik dan 40 persen Demokrat. Ini berarti ada pembelotan besar dari warga Republik ke Demokrat.

Ada kekecewaan besar di kalangan Republik terhadap kinerja partainya sekaligus pemerintah George Bush, tetapi jangan dulu mengklaim bahwa ada pergeseran sikap ideologis di AS, misalnya dari konservatif ke liberal atau bahkan kiri.

Harian Washington Post menyebut berpalingnya Republik ke Demokrat tak mengubah ciri khas mereka yang tetap mengidentifikasikan diri sebagai kaum konservatif.

Fakta menunjukkan, 40 persen kaum Republiken konservatif yang membelot ke Demokrat tetap tak menginginkan pemerintah terlalu dalam mencampuri kehidupan warga negara, sebuah sikap khas kaum Republik.

Mereka memilih Obama karena menilai McCain tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Bush.

Sementara itu, di antara komposisi rasial yang paling memengaruhi, warga Hispanik adalah kelompok terbesar yang mengubah orientasi dukungannya ke Demokrat hingga mencapai 2/3 dari seluruh warga Hispanik.

Warga Hispanik yang empat tahun lalu berperan besar dalam kemenangan Bush, khawatir Republik dan McCain akan mereformasi sistem keimigrasian.

Kulit putih

Yang mengejutkan adalah dukungan kaum kulit putih terhadap Obama yang ternyata besar, menolak asumsi selama ini bahwa kulit putih berpura-pura selama poling tapi akan berhianat di bilik suara.

Duapertiga anggota "electoral college" adalah berkulit putih, dan yang mengejutkan adalah 43 persen diantaranya memilih Obama.

Komposisi ini sebenarnya tidak begitu berubah dari empat tahun lalu saat Demokrat memajukan John Kerry, bahkan dibandingkan pencapaian Al Gore pada 2000 dan Bill Clinton pada 1996. Tapi ingat, Obama bukan kulit putih seperti ketiga orang itu sehingga bisa disimpulkan, warna kulit tak lagi dipersoalkan.

Yang lebih menarik terjadi pada kaum muda kulit putih berpendidikan, di mana baik jumlah pemilih Obama maupun McCain di kelompok sosial ini nyaris sama besar.

Ini berarti kaum muda kulit putih sekali lagi tidak melihat warna kulit sebagai faktor krusial dalam memilih capres sehingga Obama bisa memenangkan dua negara bagian yang kebanyakan penduduknya berkulit putih, Virginia dan Colorado.

Kualitas pemikiran dan kinerja Obama telah menarik perhatian pemuda kulit putih sehingga Ohio dan Pennsylvania yang didominasi kulit putih pun memilih Obama yang kulit hitam. Di sini, sembilan dari tiap sepuluh pemilih menyatakan warna kulit tidak menjadi persoalan penting.

Di sudut lain, seperti telah diduga sebelumnya, Obama akan memenangkan hampir seluruh pemilih kulit hitam dan memang hasil pemungutan suara menunjukkan Demokrat meraih 95 persen pemilih kulit hitam atau 7 persen lebih tinggi dibandingkan prestasi John Kerry pada 2004.

Demikian pula dengan kaum muda di bawah 30 tahun yang kebanyakan memilih Obama, mencapai 66 persen dari total pemilih di usia ini, sedangkan McCain hanya merebut 12 persen suara.

Sebaliknya, McCain sangat populer di kalangan orangtua kulit putih di mana 65 persen diantaranya menjagokan veteran Perang Vietnam ini sebagai presiden AS.

Salah satu kejutan lain adalah suara kaum perempuan yang ternyata tidak banyak menyeberang ke Republik meskipun McCain bersusah payah merekrut Gubernur Alaska Sarah Palin untuk mengalihkan pendukung perempuan Senator Hillary Clinton yang sempat menjadi mantan lawan Obama.

Ironisnya, sebagian besar wanita AS, sekitar 60 persen, menyatakan Palin tidak memiliki kemampuan untuk duduk di Gedung Putih.

Mengapa kecenderungan ini terjadi? Washington Post menyebut performa pemerintahan Bush --bukan kinerja McCain-- sebagai faktor yang membuat kaum wanita menjauhi Republik.

Hal memukulkan Republik lainnya adalah kenyataan bahwa sebagian besar rakyat AS tak terkesan dengan penampilan Republik di mana seperempat dari total pemilih di AS tidak percaya Bush telah bekerja baik. Tragisnya, 72 persen diantara mereka yang menilai buruk Bush beralih memilih Obama.

Tetapi tetap saja yang paling menyedot warga AS untuk memilih Obama adalah latarbelakang ekonomi. Hampir semua pemilih menilai perekonomian AS sekarang lagi buruk-buruknya di mana 40 persen diantaranya menyatakan kehidupan ekonomi sekarang lebih buruk dibanding 2004. Di sini, tujuh dari setiap sepuluh orang memilih Obama.

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar