29 Oktober 2008

Trageni kepemilikan Bersama

Banyak sumber daya seperti air bersih, udara bersih, spesies langka, dan pemandangan yang indah milik bersama bagi masyarakat umum, sehingga akses sumber daya terbuka bagi siapapun. Terkadang, sumber daya tersebut tidak dihargai dengan nilai keuangan sebagaimana mestinya. Masyarakat, industri, dan pemerintah memanfaatkan dan mengeksploitasinyas secara berlebih, tetapi mereka tidak mengalokasikan dana yang cukup untuk mengganti biaya lingkungan.

Ekosistem dan keanekaragaman hayati sebenarnya memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. Misalkan saja, apabila pohon di dunia ini tinggal sedikit, manusia pasti akan mengalami bahaya dan kerugian yang maha besar akibat kurangnya oksigen dan banjir. Apabila kita hanya melihat nilai ekonomi tidak langsung dari keanekaragaman hayati yang berupa jasa dari ekosistem, ternyata memberikan manfaat yang sangat besar, sehingga apabila dihitung dengan nilai ekonomi jumlahnya sangat besar sekitar US$ 33 triliun per tahun yang nilainya lebih besar daripada produk nasional bruto global karena hanya bernilai sekitar US$ 18 triliun.

Saat ini, produk domestik bruto (PDB) mengukur aktivitas ekonomi suatu negara tanpa mempertimbangkan seluruh biaya dari aktivitas yang tidak berkelanjutan, seperti pertambangan yang pengelolaannya buruk sehingga PDB tampak relatif tinggi, padahal aktivitas-aktivitas tersebut dalam jangka panjang dapat merusak kehidupan ekonomi suatu negara. Bahayanya lagi, negaralah yang menanggaung bencana tersebut karena dianggap bencana alam yang harus diganti oleh negara, padahal disebabkan oleh ulah manusia, seperti kasus lumpur lapindo, Sidoarjo.

Proyek-proyek besar pembangunan di dunia, termasuk Indonesia mulai saat ini seharusnya mendasarkan pada ilmu ekonomi ekologi yang memasukkan biaya lingkungan dalam anggaran. Sebagai contoh, pada proyek kelapa sawit yang menghabiskan jutaan hektar di suatu lokasi, maka keuntungan jangka pendek harus dibandingkan dengan biaya lingkungan. Ketika ekosistem rusak akibat tidak ada keseimbangan ekosistem, maka kemampuannya memberikan jasa ekonomi menjadi menurun. Nilai ekonomi dari ekosistem tersebut menurun pesat dan keberhasilan ekonomi dari proyek ini pun dipertanyakan. Seharusnya, dalam menjalankan bisnis perlu dipertimbangkan memasukkan biaya pemanfaatan dan kerusakan sumber daya milik bersama sebagai biaya internal dan bukan sebagai faktor eksternalitas.

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar