30 Oktober 2008

Pasir Besi Bengkulu diincar China

BENGKULU -- Provinsi Bengkulu menjadi salah satu target kawasan pemasok sumber bahan baku baja untuk negara China, khususnya pasir besi dengan dua perusahaan utama yang akan menanamkan investasi yaitu China Nickel Resources dan Nanjing Steel, kata Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu Zenzi Suhadi.

Ketika ditanya di Bengkulu, Kamis, Zenzi menjelaskan, yang sudah masuk ke Bengkulu ialah PT Fine Wealthy dari Hongkong. Pemerintah, kata dia, harus jeli melihat ini sebagai ancaman terhadap sumber daya alam daerah ini, sebab Bengkulu bersama Bangka Belitung, Banten dan Tangerang serta Sukabumi akan menjadi target pengerukan.

Bahkan Nanjing & Iron Steel Co Ltd (Nanjing Steel) dalam waktu dekat akan membangun pabrik pengolahan baja berkapasitas satu juta ton dengan total investasi sekitar 500 juta dolar AS di Tanah Laut, Kalimantan selatan, pada tahun 2009 nanti.


"Saat ini, perusahaan tersebut berupaya menjalin kemitraan dengan para pemilik Kuasa Pertambangan (KP) di Kalsel. Nanjing Steel berencana menggandeng PT Krakatau Steel (KS) --perusahaan baja terbesar di Indonesia-- terutama dalam penyediaan bahan baku biji besi," kata Zenzi.

Ia mengatakan, besarnya kebutuhan baja dan peluang mendapatkan bahan baku dari negara-negara berkembang, khususnya Indonesia, dan Pemerintah Cina menyusun kebijakan untuk menahan laju eploitasi sumber daya bahan baja dalam negerinya dengan menerapkan pungutan ekspor 11 persen untuk billet dan slab (bahan baku baja).

Dengan demikian, perusaan besar Cina mengalihkan modalnya ke Indonesia dengan melakukan investasi ke penambangan pasir besi dengan pungutan ekspor kecil dan baja ini kembali dipasarkan di Indonesia.

"Jangan sampai sumber daya alam kita yang dikeruk dan kembali dipasarkan di negara kita atau diekspor ke negara lain tetapi dengan pungutan yang sangat rendah, ini pasti akan berdampak negatif terhadap masyarakat yang tinggal di lokasi penambangan, karena mengakibatkan kerusakan terhadap lingkungan," katanya.

Sejak 2008 sebanyak tujuh perusahaan asing telah masuk ke sejumlah daerah di Indonessi dan lima di antaranya merupakan investor asal Cina, satu investor asal India, dan satu investor asal Singapura.

Di antara perusahaan itu ialah PT Vacation International Indonesia (Cina) yang menambang di Sukabumi Jawa Barat untuk memroduksi pasir besi dan pelet dengan total investasi 2,585 juta dolar AS, PT Oriental Pratama Indonesia (Cina), PT Fine Wealthy Indonesia (Cina) yang merupakan PMA Hongkong-RRC, bergerak di bidang industri pengolahan pasir besi dan jasa konsultasi di bidang pertambangan yang berlokasi di Kabupaten Seluma, Provinsi Begnkulu dengan kapasitas satu juta ton.

Selanjutnya, PT Hoi Cheong Indonesia (Cina), yang akan membangun pabrik serbuk biji besi di Bangka Belitung senilai 500.000 dolar AS dengan kapasitas produksi 180.000 ton dan PT Indoferro (Singapura) dalam pengolahan besi kasar dengan investasi 40 juta dolar AS di Cilegon, Banten.
Sumber : Republika

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar