30 Oktober 2008

Dampak Global Krisis ekologi lebih dahsyat daripada krisis ekonomi

Jakarta (ANTARA News) - Perburuan tanpa lelah sumber-sumber daya alam di Planet Bumi akan mendorong kehancuran ekologis pada planet ini, demikian World Wildlife Fund (WWF)mengingatkan seperti dikutip AFP, Kamis.

Meningkatnya permintaan pada bahan baku alam --seperti (hasil) hutan, air, lahan pertanian, udara dan keanekargaman hayati-- telah mempercepat tuntutan kemampuan Bumi untuk memperbarui sumberdaya hingga tiga kali lipat dari sebelumnya, demikian laporan Living Planet, WWF.

"Jika permintaan (bahan baku alam) dari Planet Bumi terus meningkat pada derajat yang sama sampai pertengahan 2030an maka kita memerlukan lagi dua planet agar kita bisa tetap hidup," kata Direktur Jenderal WWF James Leape dalam sebuah studinya.

Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan lembaga keuangan dunia selama krisis ekonomi, disamping sangat besar, juga menyebabkan kerugian ekologis yang besar setiap tahunnya.


Satu studi dari Uni Eropa menyebutkan bahwa setiap tahun, dunia kehilangan antara dua sampai lima triliun dolar AS dari alam sebagai dampak dari degradasi ekosistem.

"Dunia kini tengah berjuang menghadapi konsekuensi nilai aset sektor keuangan yang di luar takaran. Tapi satu krisis lebih fundamental tengah mengintai, yaitu rusaknya lingkungan disebabkan oleh ambruknya nilai aset lingkungan yang menjadi dasar semua kehidupan dan kemakmuran," papar Leape.

Laporan WWF itu memperlihatkan bahwa lebih dari tigaperempat penduduk Planet Bumi hidup di negara-negara dengan kondisi lingkungan terburuk di mana konsumsi penduduknya jauh melebihi kapasitas alamnya sendiri.

Laporan dua tahunan yang dikeluarkan Masyarakat Zoologi London (ZSL) dan Global Footprint Network (GFN) ini mengukur tingkat kebutuhan ekologis manusia terhadap bahan baku alam dan menakar kemampuan Planet Bumi untuk bertahan menyandang predikat "planet kehidupan."

Stagflasi

Laporan edisi 2008 ini juga menunjukkan turun drastisnya jumlah spesies biota sampai 30 persen sejak 1970 setelah para ahli mengamati lima ribu populasi biota dari 1.686 spisies.

Di daerah tropis yang keanekaragaman hayatinya tertinggi di dunia, keanekakaragaman hayatinya turun sampai 50 persen, terutama karena pemanasan global setelah alam menyerap karbondioksida dari atmosfer.

Deforestasi, konversi lahan, polusi, eksplorasi perikanan dan perubahan ikllim adalah faktor utama yang membuat alam terdegradasi.

"Kita tengah menghadapi dampak ekologis seperti halnya dampak ekonomis dari jatuhnya lembaga-lembaga keuangan, sehingga (dunia pun) membutuhkan jaminan (bailout) segera tanpa mempertimbangkan lagi konsekuensinya," kata Jonathan Loh dari ZSL.

"Konsekuensi krisis ekonomi global (terhadap lingkungan) bahkan jauh lebih serius ketimbang krisis ekonomi dewasa ini," sambung Jonathan.

Emisi gas karbon dari energi fosil dan deforestasi adalah pukulan terbesar terhadap nilai ekonomi alam raya, terutama ancaman perubahan iklim, demikian laporan itu menyimpulkan.

Bumi membutuhkan rata-rata 2,1 hektar lahan per orang untuk memproduksi sumberdaya kebutuhan manusia sekaligus untuk menangkap emisi karbon, tetapi faktanya manusia mengambil lebih banyak lagi, 2,7 persen.

"Jika defisit simpanan ekologis ini berlanjut maka dampak krisis ekonomi akan semakin parah," demikian kepala GFN Mathis Wackernagel.

"Pembatasan sumberdaya alam dan hancurnya ekosistem akan mendorong stagflasi dengan ambruknya nilai investasi, sebaliknya harga pangan dan energi meroket," tambahnya.

Amerika Serikat dan China masing-masing menggunakan seperlima dari total kapasitas alamnya, sementara konsumsi per kapita AS sendiri lebih tinggi dari kapasitas alamnya sendiri.

Jika setiap orang di dunia ini hidup seperti orang Amerika, maka penduduk Bumi akan membutuhkan 4,5 planet sekelas Bumi untuk mempertahankan sumber konsumsi penduduknya.

Satu indeks baru telah menunjukkan ada biaya ekonomi tersembunyi dibalik konsumsi air. Satu T-shirt berbahan katun misalnya, membutuhkan 2.900 liter air, dari sejak bahan dasar pertanian (kapas) sampai pengolahan (di pabrik).

Dengan demikian, setiap orang di dunia rata-rata mengkonsumsi 1,24 juta liter air per tahun, atau setara dengan setengah air di kolam renang berkelas Olimpiade. Secara nasional kebutuhan ini akan mencapai antara 1,48 juta liter per orang per tahun di AS dan 619 ribu liter per kapita di Yaman.

Perubahan iklim hampir pasti memperburuk kelangkaan air yang telah menghantam 50 negara dewasa ini, tutup WWF.
Sumber : Antara

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar