29 Oktober 2008

Eksistensi nilai agama masyarakat modern di lingkungan alam

Oleh Saevul Amri
Ajaran agama yang sangat agung memberikan petunjuk hidup dan jalan yang benar dalam mengarungi hidup di dunia ini. Agama juga mengajarkan agar manusia menjaga keseimbangan alam. Akan tetapi saat ini, mengapa kebanyakan manusia di dunia lebih bersifat anthroposentris yang serakah menghabiskan kekayaan alam untuk dirinya sendiri daripada ekosentris yang mempertimbangkan alam dalam melakukan aktivitas? Mengapa dalam peningkatkan kesejahteraan manusia tidak disertai dengan pelestarian lingkungan alam? Padahal sebagian manusia adalah beragama dan sudah sewajarnya mereka mematuhi ajaran agamanya. Penggundulan hutan, eksloitasi sumber daya alam besar-besaran, dan pencemaran limbah terjadi di semua bagian dunia, termasuk Indonesia yang katanya negara dengan masyarakat yang beragama.
Apakah manusia tidak menyadari mengapa kita sebagai umat manusia ada di dunia ini ketika bumi ini memiliki jutaan makhluk hidup dan kekayaan alam yang melimpah? Sungguh, manusia telah berlaku tidak adil. Manusia telah merusak alam yang membesarkan dan memberi tempat hidup baginya. Manusia telah membuat kerusakan alam dan kemusnahan spesies yang maha dahsyat, kepunahan yang 100-1000 kali lebih besar dari pada kepunahan yang terjadi pada zaman dahulu, seperti kepunahan pada akhir zaman permian, 250 juta tahun yang lalu, yang memusnahkan sekitar 90% biota laut. Mengapa kita tidak sadar bahwa bencana alam seperti banjir, perubahan musim tidak menentu, dan adanya berbagai penyakit disebabkan oleh ulah manusia yang tidak memelihara lingkungan alam dalam melakukan semua aktivitas manusia.
Apakah ini suatu indikasi bahwa pada saat ini oleh sebagian orang, agama hanya dimaknai sebagai ajaran yang mengajarkan bagaimana hubungan secara vertikal saja, yang hanya cukup dengan shalat bagi agama Islam atau bersembahyah bagi agama lain? Padahal agama tidak hanya mengajarkan atau mewajibkan bagi setiap pemeluknya untuk melakukan hubungan secara vertikal, tetapi secara horizontal baik kepada sesama manusia, makhluk hidup, maupun lingkungan alam. Lalu, bagaimanakah caranya agar manusia kembali pada ajaran agama yang seutuhnya? Haruskah kita melanjutkan aktivitas yang baik disadari atau tidak disadari telah merusak alam? Masihkah kita berfikir dan berbuat instan dalam memenuhi kebutuhan tanpa memperhatikan tangisan alam?

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar