26 April 2008

Menimbang Biofuel

Melambungnya harga minyak bumi dalam beberapa tahun terakhir ini melahirkan pemikiran akan pentingnya bahan bakar dari nabati (biofuel) sebagai pengganti.

Pemikiran ini kemudian mulai menyeruak ke permukaan pada 2005 ketika Amerika Serikat (AS) mendesak Brasil untuk menjadi produsen etanol terbesar yang diekstrak dari gula tebu. Sementara Eropa saat ini adalah produsen terbesar biodiesel. Bahkan,meskipun masih dalam skala kecil, di Indonesia juga mulai dikembangkan bahan bakar yang bersumber dari minyak jarak dan sawit.


Perdebatan seputar bahan bakar dari nabati ini adalah apakah memang potensi manfaat yang diperoleh akan lebih besar dibandingkan biayanya? Terlebih lagi ketika dunia sekarang ini menghadapi permasalahan pangan, apakah pengembangan bahan bakar nabati tidak berpotensi menyebabkan krisis pangan di kemudian hari? Ini semua karena pengembangan bahan bakar nabati dalam skala besar akan menyebabkan pengalihan penggunaan nabati dari bahan makanan ke bahan bakar secara masif.

Manfaat dan Biaya

Secara teknis, teknologi produksi bahan bakar nabati terus mengalami kemajuan.Di sisi lain bahan bakarnabati masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli,apakah layak menjadi bahan bakar untuk transportasi? Para ahli juga melakukan sejumlah perhitungan dan kalkulasi secara bisnis maupun ekonomi apakah pengalihan bahan tersebut memenuhi skala ekonomi.

Perlu dipahami, perhitungan ratarata biaya produksi dan efek emisi gas rumah hijau dari produksi biofuel tergantung intensitas tenaga kerja,harga bahan baku,skala produksi,dan ketersediaan infrastruktur.Artinya, berdasarkan faktor-faktor tersebut,biaya rata- rata produksi biofuel bervariasi antarlokasi.

Di sisi lain perkembangan kemajuan teknologi produksi biofuel telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam biaya produksi per liter dan manfaatnya bagi lingkungan. Biaya rata-rata etanol Brasil yang diekstrak dari gula tebu adalah 0,23–0,29 dolar per liter dengan kontribusi bahan baku nabati 37% dari total bahan baku.

Adapun biaya rata-rata etanol produksi Amerika yang diekstrak dari jagung adalah 0,40 dolar per liter dengan kontribusi jagung sebagai bahan baku utamanya sebesar 39–50%. Biaya produksi etanol Eropa yang diekstrak dari gandum adalah 0,59 dolar per liter dengan kontribusi bahan baku nabati sebesar 68%.

Sementara itu, etanol Eropa yang diekstrak dari gula bit biayanya paling mahal, yaitu 0,76 per liter, dengan kontribusi bahan baku nabati 34%. Dari keseluruhan etanol, hanya etanol produksi Brasil yang biaya produksinya lebih murah dibandingkan bensin dengan perhitungan biaya produksi bensin di pasar Amerika adalah 0,34 dolar per liter.

Sementara itu,biaya produksi untuk semua biodiesel per liter yang diekstrak dari berbagai sumber bahan nabati masih lebih tinggi dibandingkan biaya produksi solar, yang 0,41 dolar per liter.Biaya produksi biodiesel Malaysia yang bersumber dari minyak sawit adalah 0,54 dolar per liter,biodieselAmerika yang diekstrak dari kedelai adalah 0,66 dolar dan biodiesel Eropa 0,87 dolar.

Kebutuhan bahan nabati untuk produksi biodiesel berkisar antara 80–85 % dari keseluruhan bahan baku. Naiknya harga CPO akhir-akhir ini telah menyebabkan biaya produksi biodieselMalaysia yang diekstrak dari minyak sawit menjadi naik meskipun tetap saja lebih murah dibandingkan biodiesel lain.

Hanya biodiesel India yang diekstrak dari pohon jarak yang mempunyai potensi untuk bisa diproduksi lebih murah dibandingkan biaya produksi solar. Dengan skala produksi yang belum efisien, biaya ratarata biodiesel India tersebut adalah 0,40 – 0,65 dolar per liter. Sementara biaya produksi solar per liter adalah 0,41 dolar per liter.

Meskipun biaya produksinya masih lebih mahal dibandingkan bahan bakar minyak bumi, seluruh biofuel baik etanol maupun biodieselbermanfaat mengurangi dampak emisi yang besar.Dampak emisi etanol Brasil adalah 91%, lebih rendah dibandingkan emisi bensin untuk melakukan perjalanan per kilometer, paling tinggi reduksi emisinya dibandingkan etanol lainnya.

Seluruh biodiesel menghasilkan dampak polusi yang lebih rendah dibandingkan bensin maupun solar. Sementara etanol dari bahan baku jagung dan gandum memberikan manfaat relatif yang kecil. Perhitungan biaya dan manfaat tersebut berdasarkan teknologi produksi generasi pertama. Teknologi produksi biofuel generasi kedua, meskipun mampu meningkatkan ma-nfaat lingkungan yang lebih besar,tetapi biaya produksinya justru menjadi lebih mahal.

Selain aspek perhitungan biaya produksi, masih ada potensi biaya yang muncul jika biofuel digunakan lebih intensif lagi. Pertama, pemanfaatan secara intensif bahan-bahan yang selama ini menjadi sumber bahan makanan untuk produksi bahan bakar, dapat mendorong naiknya harga makanan.

Kedua,produksi tanaman bahan makanan sebagai bahan baku dalam skala besar untuk menghasilkan bahan bakar akan menambah tekanan terhadap eksploitasi tanah dan air yang selama ini saja sudah sangat mencemaskan. Studi yang dilakukan LMC internasional (a trategic assesment of the impact of biofuel demand for agricultural commodities, 2006) memperkirakan naiknya produksi biofuel hanya akan mampu men-cukupi 5% kebutuhan energi pada 2015, tetapi di sisi lain akan mendorong naiknya penggunaan tanah untuk produksi bahan baku sebesar 15%.

Selain itu semua, tentu saja dibutuhkan biaya tetap (fixed cost)yang sangat besar untuk kebutuhan infrastruktur dan transportasi untuk distribusi etanol dalam skala yang lebih besar. Bagi negara berkembang,pengembangan biofuel berpotensi memberikan manfaat yang signifikan.

Pertama, biofuel memungkinkan diversifikasi sumber energi sehingga karena itu akan menghindarkan dampak keguncangan volatilitas harga minyak. Pengembangan biofuel juga berpotensi mendorong perkembangan ekonomi pedesaan dengan terciptanya lapangan pekerjaan dari produksi bahan biofuel. tidak kalah pentingnya adalah pengurangan dampak polusi dari pembakaran bahan bakar minyak bumi.

Mengurangi Ketergantungan Minyak

Dilihat dari sisi biaya, biofuel lebih mahal dibandingkan dengan bensin dan solar.Namun, dilihat manfaat relatifnya jauh lebih besar mengingat potensi pengurangan emisi yang dihasilkannya sangat besar. Ini akan positif bagi upaya mengurangi dampak polusi terhadap lingkungan. Penggunaan bakar bensin dan solar sebagai bahan bakar selama ini telah mengakibatkan eksploitasi berlebihan atas sumber daya tak terbarui.

Daya dukung bumi atas eksploitasi ini pada saatnya nanti tidak akan mampu lagi menopang kebutuhan akan bahan bakar.Lepas dari perdebatan apakah layak atau tidak,biofuel memberikan harapan untuk lepas dari ketergantungan terhadap minyak bumi. Pada akhirnya bagaimana pengembangan bahan bakar alternatif berbasis nabati dan potensi manfaat yang ada bisa direalisasikan? Kesemuanya sangat tergantung pada kebijakan pemerintah dalam bidang energi.

Sayangnya,kita belum melihat adanya kebijakan energi jangka panjang oleh pemerintah.Kebijakan yang ada, termasuk rencana pembatasan penggunaan bahan bakar,cenderung reaktif dan jangka pendek tanpa platform yang jelas mengenai bagaimana arahnya di masa mendatang.(*)

Akhmad Syakir Kurnia
Dosen Fakultas Ekonomi Undip Peneliti pada Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi (LSKE) FE Undip

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar