04 November 2008

PENERBANGAN PESAWAT BISA TIRU SEMUT

Ahli komputer mensimulasikan aktivitas penerbangan dengan model kerja semut untuk mengurangi delay

Bepergian keluar kota dengan menggunakan jalur udara, satu hal yang sangat menjengkelkan adalah adanya penundaan penerbangan pesawat atau delay. Karena hal ini, waktu perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh lebih cepat, tapi datang ke kota tujuan waktunya menjadi lebih lama. Keluhan ini umum diceritakan bagi mereka yang mengambil penerbangan luar negeri di jalur padat penerbangan, misal Phoenix Sky Harbor Airport.

Untuk memecahkan masalah penerbangan lalu lintas udara ini, seorang analis keuangan di Dallas, Texas, menggunakan konsep kecerdasan kelompok ditiru dari kelompok semut.


”Ini adalah solusi yang efektif karena mereka bisa bekerja dengan sangat efisien,” ujar Douglas Lawson, Ph.D., Manager Analis Keuangan Southwest Airlines in Dallas, Texas.

Menggunakan simulasi komputer untuk menjalankan pesawat virtual, kecerdasan kelompok ini menjadi kunci utamanya. Konsepnya disusun sangat sederhana di mana masing-masing pesawat berkomunikasi antar sesamanya untuk meningkatkan efisiensi operasi baik saat akan mendarat atau keberangkatan.

Lawson bercerita bahwa konsep seperti ini sebenarnya juga telah dilakukan dalam ekonomi dan pasar bisnis. Misalnya pada sebuah pabrik, di dalamnya akan terbagi atas mereka yang bekerja sebagai pemroduksi, marketing dan sebagainya. Pada lebah juga ada sebagai lebah pekerja, tentara, atau ratu.

”Semua untuk meningkatkan produksi dan bekerja lebih cepat,” paparnya.

Untuk memulainya pada lalu lintas udara, ini adalah hal yang baru di mana pengaturan kecepatan ini dilakukan sesuai jadwal di mana tempat mendarat atau keberangkatan ini memungkinkan.

”Pesawat tidak akan lagi berputar-putar untuk menunggu di mana pendaratan atau penerbangan biasa dilakukan,” jelasnya.

Saat cara ini dipraktikkan, besar kemungkinan akan membuat pelanggan jauh lebih cepat sampai ditempat tujuan.

”Hal ini akan memperbendek waktu karena yang mengendalikan adalah koloni itu sendiri,” ujar Lawson.

Pasalnya, program yang menggunakan teori kelompok (swarm theory) bisa berperilaku seperti semut yang memungkinkan masing-masing pilot untuk mencari sendiri jalan di pintu mana yang bisa untuk mendarat.

”Pilot akan mencari sendiri di mana lokasi terbaik sesuai pengalamannya,” jelasnya.

Dan jika akan ada sesuatu yang terjadi maka program pun secara otomatis akan terlebih dahulu memberitahu sebelum hal itu terjadi.

Cerita ini adalah gambaran cara semut bekerja untuk mencari makan. Mereka dengan mudahnya bisa berjalan sesuai barisan pada jalur yang ada, berpencar, dan menemukan sumber untuk kemudian kembali ke sarang dengan sangat cepat. Masing-masing semut bisa bekerja dengan cepat karena mereka saling berkomunikasi antar sesamanya. Di sini feromon, sebuah senyawa pengikat antar semut, berfungsi sebagai tanda. Pengulangan yang kuat membuat semut-semut ini ketika berpisah dari kelompok dan sarangnya kemudian menemukan makanan bisa dengan cepat kembali ke sarang.

Tapi jika individu semut ini berpisah dari kelompoknya, mereka akan berputar-putar dan mengikuti feromonnya sendiri. Mereka bisa saja tidak menemukan jalan hingga akhirnya mati kehausan.

Semut pun dengan mudah bisa mengetahui di mana lokasi lubang sarangnya hanya dengan mengandalkan feromon ini. Jalur tercepat pun pada beberapa jenis semut bisa dicapai berdasarkan rumus matematika mereka yang sangat ajaib.
”Ini seperti lebah yang mencari makan dengan berkelompok,” ujar Lawson.

Model seperti ini disebut dengan "swarm intelligence" dan menggambarkan betapa sangat kompleknya tingkah laku individu semut untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Tapi semuanya ditentukan oleh sebuah aturan yang juga menjadi kecerdasan kelompok seperti halnya lebah.

Cara Unik Semut Menemukan Jalan

Kawanan tentara di kelompok semut besar yang terdapat di Amerika tengah dan paling selatan, menunjukkan perilaku yang sangat spektakuler dalam hal pengeroyokan mangsa saat mereka ganas dan menjadi seperti binatang pemakan. Dalam sekali serangan ini jumlah hewan penghancur yang pergi ke sana kemari ini bisa mencapai 200 ribu semut. Untuk itu guna menghindari serangan ini hewan-hewan yang berada di sekitar sarang semut harus menjauh dari setiap lubang yang ada di sekitar sarang utama. Karena dalam hitungan detik, jika terjadi gangguan pada sarang maka di setiap lubang di sekitar sarang akan muncul semut tentara ini untuk menyerang.

Mereka yang mengeroyok memangsa dan memotong-motong untuk mengambil sebagai makanan. Mereka pun bisa dengan cepat terhubung satu sama lain dan mendapatkan jalur terbaik. Memotong jalur dan berlompatan antarranting maupun daun bisa menjadi kunci tercepat sampai ke sarang. Hal ini meski terlihat ekstrem, namun dalam hitungan mereka jalur mendatar dengan tujuan jalan yang lurus adalah jalan tercepat. Menuju ke sarang utama ini bisa segera dicapai dengan adanya feromon sebagai senyawa pengikat.

Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Dr Scott Powell dan Profesor Nigel Franks di University of Bristol di Animal Behaviour melaporkan bahwa ini merupakan mekanisme alam dengan kualitas dan perbaikan yang tepat. Komunikasi antarsemut yang ada membuat jalur lebih cepat dan meningkatkan hasil karena produksi makanan yang dibawa ke sarang jauh lebih banyak.

”Ini tidak akan terjadi jika mereka lepas dari lingkaran jalur mereka,” ujar Powell.

Telah dibuktikan meski dengan eksperimen lubang tiruan dengan ukuran yang berbeda dan ada yang sama dengan lubang besar lainnya sebagai lalu lintas menuju sarang utama, tapi mereka tidak pergi ke lubang tersebut.

”Mereka menemukan jalan mereka sendiri untuk menuju lubang utama yang menurut mereka cepat,” ujarnya Franks.
Tim pun mencoba untuk melakukan penandaan pada bekas-bekas lubang yang ada dengan bekas galian lubang mereka, namun ternyata semut tetap berjalan pada posisi jalan mereka sendiri ke lubang utama.

Ilmuwan di masa mendatang memungkinkan jalur komunikasi ini sebagai program baru untuk berkomunikasi antarrobot. Tingkah laku serangga yang bekerja sama bisa menjadi kunci sosial antar robot untuk saling mengaktifkan. Misalnya ketika salah satu robot pada koordinat tertentu menemukan sesuatu, maka robot lainnya yang sedang beristirahat, dengan segera bisa aktif untuk mempersiapkan penyelidikan. Kecerdasan ini mungkin saja pada suatu hari akan digunakan untuk mengeksplorasi Mars yang saat ini sedang dilakukan oleh NASA. (JURNAL NASIONAL, 1 Juli 2008/ humasristek)

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar