01 November 2008

Cagar Biosfer Saat Ini Tidak Berkembang

Cagar biosfer yang mencakup kawasan ekosistem asli yang ditetapkan dengan tujuan melindungi keanekaragaman hayati di Indonesia selama ini tidak berkembang. Bahkan, keberadaannya di era otonomi daerah makin terancam pengalihan tata guna lahannya.

"Cagar biosfer di dunia justru terus dikembangkan hingga sekarang mencapai 540-an, sedangkan di Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang tergolong paling kaya itu sampai sekarang hanya memiliki enam cagar biosfer sejak era 1970-1980," kata Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara, Selasa (7/10) di Jakarta.

Keberlangsungan enam cagar biosfer di Indonesia didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNESCO, meliputi cagar biosfer Cibodas (Taman Nasional Gede Pangrango) di Jawa Barat, Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, Lore Lindu di Sulawesi Tengah, dan Taman Nasional Komodo, keempatnya diresmikan pada tahun 1977. Kemudian cagar biosfer Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Siberut di Mentawai yang diresmikan UNESCO pada tahun 1981.

"Semenjak itu pemerintah tidak pernah memperbanyak cagar biosfer lagi," kata Endang Sukara.


Memperlambat kepunahan

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) Damayanti Buchori mengatakan, upaya memperlambat kepunahan keanekaragaman hayati seperti dibahas Badan Konservasi Dunia (IUCN) di Barcelona, Spanyol, akhir-akhir ini, harus ditunjukkan dengan keseriusan pemerintah memperbanyak cagar biosfer itu.

"Dari keberadaan enam cagar biosfer saja hingga saat ini sama sekali tidak mewakili keanekaragaman hayati yang tersebar di pulau-pulau," kata Damayanti.

Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Sri Supraptini Mansjoer, mengatakan bahwa upaya memperlambat kepunahan keanekaragaman hayati tidak bisa lepas dari peran setiap pemerintah kabupaten atau kota di era otonomi daerah seperti sekarang.

"Pemerintah daerah paling memiliki peluang untuk melindungi keanekaragaman hayatinya. Tetapi, kapasitas untuk mengambil manfaat dari upaya memperlambat kepunahan berbagai jenis flora dan fauna di daerah masing-masing itu perlu ditingkatkan, misalnya untuk kepentingan ekoturisme," kata Sri Supraptini.

Biosfer

Endang Sukara memaparkan, cagar biosfer memiliki zona penyangga dan zona transisi. Namun, kedua zona ini tak diwujudkan dengan baik, kecuali pada cagar biosfer Cibodas dengan kelangsungan zona penyangga berupa Kebun Raya Cibodas yang tetap terpelihara dan berfungsi untuk ekoturisme hingga kini.

Perwujudan zona transisi pada kawasan perbatasan zona penyangga dengan permukiman. Akan tetapi, ini juga tidak terbentuk. Pada zona ini penduduk semestinya memanfaatkan potensi ekonomi dari keanekaragaman hayati cagar biosfer, seperti penanaman kayu spesifik atau lainnya.

Endang Sukara mengatakan, LIPI kini sedang memperjuangkan kawasan Pegunungan Muller di Kalimantan Tengah menjadi Warisan Dunia atau World Heritage. Sebab, menjaga kelangsungan kawasan ini sekaligus menjaga kelangsungan keanekaragaman hayati yang terdapat di Kalimantan.

"Itu disebabkan hampir semua hulu sungai berada di pegunungan Muller ini. Ketika habitat hutan di Pegunungan Muller rusak, intensitas bencana ekologis di Kalimantan makin bertubi-tubi," kata Endang Sukara.

Sumber : Kompas (8 Oktober 2008)

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar