29 Oktober 2008

Kesalahan Ahli Ekologi dan Ahli Lingkungan

Oleh : Saevul Amri

Suatu pilihan bijak terkadang berat untuk dijalankan dan seringkali dibenturkan oleh kebutuhan manusia. Motif ekonomi selalu menjadi alasan utama dan tidak terkalahkan sampai saat ini dalam menjalankan praktik pembangunan yang notabenya merusak lingkungan. Pemerintah (penentu kebijakan) sering kali membuat peraturan dan kebijakan yang justru merusak lingkungan, seperti pendirian pelabuhan di suatu lokasi kawasan lindung, memberikan izin penambangan di berbagai kawasan lindung, dan mengizinkan perusahaan-perusahaan melakukan tindakan perusakan lingkungan. Sebagian besar pelaku bisnis seringkali menghalalkan berbagai cara untuk memperoleh keuntungan. Modal kecil dengan tidak mengalokasikan dana lingkungan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya masih digunakan oleh sejumlah pelaku bisnis. Padahal, sangat dimungkinkan beberapa tahun ke depan manusia akan merasakan dampak yang luar biasa dari kerusakan alam yang ditimbulkannya.
Mengapa manusia melakukan semua ini? apakah mereka tidak mengerti dampak yang ditimbulkan? Secara naluriah, manusia sewajarnya memikirkan keberlanjutan kehidupan dirinya dan kehidupan anak cucunya. Namun, sepertinya naluri yang ada hanyalah naluri untuk memikirkan keberlanjutan dirinya saja tanpa memperhatikan nasib anak cucunya di bumi ini. Apakah selama sekolah/kuliah mereka hanya mempelajari ekonomi, politik, atau hukum?. Hal ini sangatlah mungkin terjadi. Mereka sebenarnya tidak memahami apa dampak aktivitas yang mereka lakukan. Disinilah peran dan fungsi komunikasi di antara semua pihak diperlukan.
Manusia yang ahli ekologi dan lingkungan mempunyai peran yang besar dalam memberi pemahaman tentang konsep lingkungan dan ekosistem yang sesungguhnya terhadap pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Dunia dan Indonesia khususnya memiliki banyak ahli ekologi atau ahli lingkungan, tetapi kenapa kerusakan alam tetap terjadi? Apakah mereka tidak bisa memberi pemahaman pada yang lain? Apakah mereka hanya sibuk melakukan penelitian dan penelitian tanpa melakukan tugas utama mereka dalam berbagi ilmu? Apakah mereka tidak bisa bicara dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami kepada yang lain? Mengapa mereka juga tidak berusaha mempelajari ilmu hukum, ekonomi, politik, dan teknologi meskipun sedikit untuk mensinergiskan ilmunya? Inilah kegagalan para ahli ekologi atau ahli lingkungan kita. Meskipun demikian, ahli ekologi atau lingkungan tidak bisa disalahkan seratus persen.
Sebuah argumentasi dan cara yang tepat sangat perlu dilakukan untuk menyadarkan pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Inilah perlunya seorang yang ahli lingkungan atau ekologi belajar disiplin ilmu lain meskipun sedikit dan perlunya memiliki ikatan jaringan yang kuat dan komunikasi yang baik dengan pejabat pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat. Namun, apakah perlu ahli lingkungan atau ekologi terjun langsung menjadi pejabat pemerintah atau pelaku bisnis?

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar