25 Juli 2008

Menguak ’’Dunia yang Hilang” di MAMBERAMO

Lembah Mamberamo di kaki Gunung Foja,Papua,bak dunia yang hilang. Namun, kini misteri itu mulai terkuak dengan penemuan berbagai spesies flora-fauna yang unik. Keadaan alam di Lembah Mamberamo di Gunung Foja, Kab Sarmi, Provinsi Papua, masih begitu asri.

JAYAPURA(SINDO) –Dibelah sungai Mamberamo yang memiliki panjang 670 km, Lembah Mamberamo kaya akan spesies flora dan fauna. Bahkan, ada beberapa spesies langka yang belum pernah ditemukan.

Sejauh ini lembah itu belum terjamah. Misteri yang tersimpan di daerah yang ditempati suku terasing Papua itu pun belum banyak yang terkuak. Padahal, potensi alamnya yang alamiah, selain spesies langka flora-fauna,sangat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Tak heran bila Lembah Mamberamo sering dijuluki ’’Dunia yang Hilang”. Itu wajar saja karena Lembah Mamberamo di lereng Gunung Foja diselimuti hutan hujan seluas 3.000 km2. Lokasinya yang berada di ketinggian sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut pun sulit dijangkau karena cukup curam.Bahkan, masyarakat setempat enggan merambah wilayah itu.

Kini, misteri ’’Dunia yang Hilang” sedikit mulai terkuak lewat ekspedisi yang dilakukan tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama peneliti dari Conservation International (CI) pada Juni 2007 ini. Ekspedisi Gunung Foja pada Juni 2007 merupakan yang kedua setelah ekspedisi pertama pada 2005 lalu.

Dalam ekspedisi itu ditemukan puluhan jenis spesies baru flora dan fauna yang belum pernah ditemukan. Berdasarkan laporan CI, ada lebih dari 30 spesies baru ditemukan selama ekspedisi itu. Spesies baru itu, yakni tikus berukuran raksasa atau lima kali ukuran tikus kota, kanguru pohon berbulu emas, echidna berparuh panjang, burung pemakan madu, kanguru pohon berbulu putih,burung elang kecapi, burung punjung paruh emas,burung nuri daun,kura-kura raksasa berkulit halus, spesies katak, kupu-kupu delia, tanaman raksasa,dan palem.

Beberapa di antaranya yang dianggap spesies baru,yakni burung berbulu mirip ranting pemakan madu, 20 spesies katak, 4 spesies kupu delia, dan 45 spesies palem. ’’Mamberamo menjadi salah satu target penelitian kami untuk mendata spesies baru,” tutur Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Deddy Darnaedi.

Dia menambahkan, hasil temuan spesies baru itu akan disimpan dan menjadi data base spesies flora dan fauna Indonesia. Pemberian nama spesies baru tersebut akan dilakukan setelah penelusuran jenis dan marga dari spesies itu selesai dilakukan secara lengkap. Nama yang akan diberikan pada spesies tersebut bisa gabungan dari nama peneliti lokal dengan peneliti asing.Dengan demikian,spesies- spesies itu akan tercatat dalam sejarah.

’’Setelah penelusuran kami terhadap jenis spesies ini selesai dilakukan, kami akan mengumumkan nama spesies-spesies baru itu kepada publik,”paparnya.

Selain itu, ekspedisi tersebut masih sebatas menelusuri jenis hewan dan tumbuhan yang tampak kasatmata, misalnya tikus berukuran raksasa yang sering ditemui oleh tim ekspedisi.Kerja sama dari pemerintah lokal dan masyarakat setempat juga sudah semakin membantu. Ke depan, ekspedisi tidak hanya dilakukan untuk kembali menyisir spesies yang gampang dilihat, juga spesies serangga, reptil, dan lain-lain.

Hal itu tentu membutuhkan tim dari berbagai bidang ahli dan ketelitian. ’’Dulu kami sulit sekali mendapatkan akses untuk menjelajahi Mamberamo.Namun, kini pemda sudah mau memberikan akses,”ujarnya.

Beberapa daftar spesies di Papua berdasarkan data CI,yakni 191 jenis spesies mamalia, 552 spesies burung air dan darat (tidak termasuk burung pantai atau burung migran), 142 spesies kadal,83 spesies ular, lebih dari 130 spesies katak, 2.650 spesies ikan (sekitar 60 persennya spesies ikan laut), serta lebih dari 100.000 spesies antropoda (spesies tanaman hidup di wilayah ini).

Tanaman asli wilayah itu diperkirakan 50 persen dari total jumlah spesies flora.Papua pun merupakan wilayah terkaya tanaman anggrek jenis Bulbophyllum dan Dendrobium, dengan 500 lebih spesies mengagumkan dari genre ini. Pada ekspedisi 2005, tim CI mencatat 40 spesies baru ditemukan, termasuk kanguru berbulu emas. Bahkan, Buchler Bruce dari CI menyatakan bahwa 200 jenis spesies burung di Papua dipercaya merupakan yang terbanyak di dunia.

Begitu para ilmuwan tiba di daerah survei,mereka langsung disambut seekor burung yang aneh. Bulunya hitam, tapi mukanya berjengger warna kuning tua, seperti ayam. Buchler yang ornitolog memastikan bahwa burung itu adalah honeyeater atau burung pengisap madu jenis baru. Dalam survei selama sebulan itu saja, para peneliti berbagai bidang telah memperoleh hasil-hasil tertentu.

Selain penemuan tersebut, ahli serangga juga menemukan lebih 150 jenis serangga, termasuk empat spesies baru,khususnya jenis kupu-kupu langka yang jarang ditemukan di bagian lain dunia.Kupu-kupu itu, yakni kupukupu sayap burung yang dianggap sebagai kupu-kupu terbesar di muka bumi. Sebab, rentangan sayapnya mencapai 18 cm. (abdul malik)

Sumber : Seputar Indonesia (19 Desember 2007)

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar