25 Juli 2008

Manusia dan lingkungan

Kerusakan lingkungan yang terjadi di Tanah Air dewasa ini sudah sampai pada tahap benar-benar mengkhawatirkan. Setiap hari terdengar bencana baik berupa banjir, tanah longsor, kekeringan, erosi, maupun kelaparan atau gizi buruk.
Kerusakan yang terjadi telah mengarah pada krisis lingkungan yang mengancam kelangsungan hidup hewan, tumbuhan dan manusia. Bila berlangsung tanpa kendali, dalam kurun waktu tertentu, lonceng kematian makhluk Bumi akan berdentang.
Sebagian besar kerusakan lingkungan, bila dicermati, sebenarnya berakar dari perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Eksploitasi terhadap alam secara berlebihan memacu terjadinya kerusakan lingkungan yang serius, misal terjadinya pencemaran air, polusi udara serta perubahan lahan yang semula subur menjadi tandus atau gersang adalah akibat tangan-tangan manusia.
Menurut Alquran, manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari alam. Manusia mempunyai peran dan posisi khusus di antara komponen alam dan makhluk ciptaan Tuhan yang lain yakni sebagai khalifah atau wakil Tuhan dan pemimpin di Bumi (QS Al-An’am: 165).
Manusia pada satu sisi adalah yang bertugas mengabdi kepada-Nya dan pada sisi lain sebagai khalifah Allah yang berkewajiban mempresentasikan peran Allah terhadap alam semesta, antara lain memelihara alam (rabb al-alamin) dan menebarkan rahmat di alam semesta.
Allah telah menciptakan jagat raya termasuk bumi dan seluruh isinya dalam keseimbangan, proporsi dan ukuran tertentu (QS Al-Hijr: 19 dan QS Al-Qomar: 49). Bumi tempat manusia tinggal dan melangsungkan kehidupannya terdiri dari berbagai unsur dan elemen dengan keragaman bentuk, proses dan fungsinya. Berbagai unsur dan elemen tersebut diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia. ”(Dialah) yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka, Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal (QS Thaha: 53-54).
Memang benar, alam dengan segala sumber dayanya antara lain diciptakan untuk kebutuhan manusia. Dalam memanfaatkan sumber daya alam guna menunjang kehidupannya, ia tidak boleh berlebihan atau melampaui batas, isyraf (Al-Anam: 141-142). Tidak boleh pula hanya berpikir untuk kepentingan sesaat dengan mengabaikan hak-hak generasi mendatang. Pemanfaatan berlebihan yang menguras sumber daya alam akan meninggalkan sampah dan residu bagi anak cucu. Perbuatan semacam ini tak ubahnya dengan merampok atau merampas hak-hak orang lain.
Oleh karena itu, pemanfaatan hak akan sumber daya alam harus disertai dengan kewajiban memelihara alam untuk berkelanjutan kehidupan. Berulang-ulang dinyatakan dalam Alquran bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi dan sebaliknya Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan dalam hidupnya, antara lain mampu menjalankan peran pemeliharaan dan konservasi alam dengan baik.
Dalam menjalankan misi khilafah ini, manusia telah dianugerahi oleh Allah berupa kesempurnaan ciptaan dan akal budi. Dengan kelebihannya itu, manusia diharapkan dapat memelihara dan mengatur keberlangsungan fungsi dan kehidupan semua makhluk secara adil, tanpa menzalimi kelompok atau makhluk lain (QS An-Nisa: 58).
Jadi, diperlukan kesadaran bersama akan pentingnya memelihara dan menjaga lingkungan demi masa kini dan masa depan. Wallahu alam bish-shawab. - Drs H A Dahlan Rais MHum, Sekretaris PP Muhammadiyah, dosen FKIP UNS

sumber : solopost.co.id

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar