25 Juli 2008

Luar Jawa berpotensi sebagai raja Bioetanol

Menipisnya pasokan minyak bumi berakibat melonjaknya harga hingga US$100/barel. Pemerintah pun semakin berat menanggung beban subsidi bahan bakar minyak. Menaikkan harga BBM menjadi salah satu pilihan. Langkah itu semestinya tidak perlu terjadi seandainya 1,25-juta hektar sagu di Papua dan Maluku, serta 2-juta aren di Minahasa Utara dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol.

Sagu salah satu sumber pati tertinggi. Setiap hektar sagu menghasilkan 25 ton pati. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang kadar pati beras dan jagung yang masing-masing hanya 6 dan 5,5 ton/ha. Bila diolah menjadi bioetanol bisa menghasilkan 4.000-5.000 liter/ha/tahun.

Seandainya sejuta hektar saja yang diolah menjadi etanol, dapat dihasilkan sekitar 4-miliar-5-miliar liter bietanol/tahun. Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan premium di Papua yang hanya 100-juta liter/tahun atau surplus 3,9-miliar-4,9-miliar liter/tahun. Dengan begitu, Papua justru menjadi pemasok kebutuhan bahan bakar di daerah lain.

Cukup

Potensi aren sebagai bahan baku etanol juga tak kalah hebat. Dari sebatang pohon Arenga pinata diperoleh 15-20 liter nira/hari. Nira itulah yang nantinya difermentasi menjadi bioetanol. Jika dalam setahun aren disadap selama 200 hari, total nira yang dihasilkan 3.000-4.000 liter/pohon. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 15 liter nira. Jadi, setiap pohon bisa menghasilkan 200 liter etanol/tahun. Bila seluruh populasi aren di Minahasa Utara itu diolah menjadi bioetanol, dapat dihasilkan 400-juta liter/tahun.

Itu baru potensi bioetanol yang dihasilkan dari tanaman liar di hutan-hutan. Belum lagi bila lahan kritis yang ada di masing-masing daerah juga digunakan untuk budidaya tanaman bahan baku bioetanol. Di Papua saja jumlah lahan kritis mencapai 2.935.375 ha. Seandainya seluruh lahan itu ditanami bahan baku bioetanol dengan produktivitas minimal 4.000 liter/ha/tahun, akan menghasilkan 11,7-miliar liter bioetanol/tahun.

Jumlah itu dapat memenuhi kebutuhan premium di Pulau Jawa yang mencapai 12-miliar liter/tahun. Jawa memang paling rakus mengkonsumsi bensin, yakni mencapai 70% dari total konsumsi bensin nasional. Namun, ia paling kurus potensi bioetanolnya, hanya 1,297-miliar liter/tahun. Bila Papua memanfaatkan kekayaan mereka untuk memproduksi bioetanol, ia akan jadi raja energi di tanahair.

Tak hanya Papua yang kaya sumber bioenergi. Pulau-pulau besar seperti Sumatera dan Kalimantan juga menyimpan potensi yang sama. Menurut Dr M Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, kedua pulau itu berpotensi menghasilkan masing-masing 11,6-miliar liter dan 11,8-miliar liter bioetanol/tahun. Dengan menggabungkan potensi kedua pulau itu saja, kebutuhan premium nasional yang mencapai 17-miliar liter/tahun dapat dipenuhi.

Sorgum

'Pilihlah bahan baku yang sesuai dengan potensi daerah,' ujar Roy Hendroko, staf ahli PT Rajawali Nusantara Indonesia yang juga menjadi konsultan ahli pada beberapa perusahaan yang mengembangkan bioenergi. Meski produktivitas aren paling tinggi bila diolah menjadi bioetanol-40.000 liter/ha/tahun-belum tentu cocok dibudi-dayakan di Sumatera dan Kalimantan. 'Bioetanol berbahan aren cocok dikembangkan di Minahasa Utara karena warga di sana memiliki budaya menyadap nira,' katanya.

Begitu juga dengan ubikayu. Walaupun di Lampung membentang perkebunan singkong, belum tentu di kawasan itu potensial dikembangkan bioetanol. Sebab, di sana marak produsen tepung tapioka. Bila industri bioetanol berdiri di Lampung, permintaan singkong akan meningkat sehingga menaikkan harga. Akibatnya menjadi bumerang bagi produsen bioetanol karena biaya bahan baku menjadi tinggi.

Sorgum manis, kini yang digadang-gadang menjadi 'kuda hitam' bahan baku bioetanol. Tanaman ini belum dimanfaatkan oleh industri mana pun. Jadi tak perlu khawatir mengganggu kebutuhan pakan maupun pangan. Produk-tivitasnya pun tak kalah tinggi. Bila yang dimanfaatkan adalah nira dari perasan batang, produktivitasnya sebanding dengan tebu yang dapat menghasilkan 5.000-6.000 liter bioetanol/ha/tahun.

Bagaimana dengan pengganti solar? Di Indonesia tumbuh 62 jenis tanaman penghasil minyak. Minyak nabati itu dapat diolah dengan transesterifikasi menjadi biodiesel. Jarak pagar Jatropha curcas salah satu tanaman yang paling berpotensi sebagai pengganti solar. Dari biji kering dapat dihasilkan rata-rata 1.500 liter minyak/ha/tahun.

Menurut catatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, setidaknya 19,8-juta hektar lahan cocok untuk ditanami jarak pagar. Lahan itu tersebar hampir di seluruh provinsi. Jika seluruhnya ditanami jarak, minyak nabati yang dihasilkan mencapai 29,7-miliar liter. Setelah ditransesterifikasi menghasilkan 23,76-miliar liter biodiesel. Jumlah itu hampir memenuhi konsumsi solar nasional mencapai 26-miliar liter/tahun. Dengan begitu, tak perlu risau meski harga minyak dunia terus merangkak naik. (Imam Wiguna)

sumber : Trubus

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar