31 Oktober 2008

Menghitung "Jasa" Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Oleh :Fachruddin Mangunjaya

KAWASAN konservasi (termasuk di antaranya taman nasional dan hutan lindung) di Indonesia belum banyak diungkap sebagai area yang dipandang mempunyai manfaat langsung bagi masyarakat. Sebab, umumnya kalangan awam menilai suatu kawasan konservasi hanyalah tutupan hutan yang mempunyai makna ekonomi, jika kayu yang ada di dalamnya bisa dijual atau dimanfaatkan untuk bangunan dan segala aspek yang mempunyai dampak langsung bagi masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Padahal, kawasan konservasi mempunyai manfaat besar baik secara langsung maupun tidak langsung. Primarck dkk (1998), menguraikan, keuntungan yang diperoleh dari nilai tidak langsung sebuah kawasan konservasi antara lain termasuk kualitas air, proteksi tanah, rekreasi, pendidikan, penelitian ilmiah, regulasi iklim, dan penyediaan pilihan masa depan bagi masyarakat.


Sekarang masyarakat perkotaan di Indonesia-termasuk Jakarta-secara sadar telah mulai kehilangan kepercayaan terhadap kualitas air yang diminumnya, sehingga mereka harus mendatangkan air kemasan dari gunung sebagai sumber air minum, walaupun satu liter air kemasan itu harganya terkadang lebih mahal dari satu liter bensin.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) merupakan suatu kawasan konservasi seluas 22.000 hektar terdapat di kawasan Jawa Barat, namun mempunyai dampak penting bagi kehidupan 8 juta penduduk di Jakarta. Mengapa? Di gunung inilah berhulu beberapa sungai besar, Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan DAS Cisadane. Kawasan ini pula yang mendukung stok perairan yang ada di tiga kawasan administratif, yaitu Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Kalau mau berterus terang, sesungguhnya masyarakat Jakarta sangat tertolong dengan mendapatkan asupan pangan dan sayuran segar dari mulai pasar induk hingga hipermarketnya, kebanyakan dari tiga kabupaten ini. Bagaimanakah jika air dan ekosistem pertanian tidak mendukung di kawasan ini? Jawabnya pasti akan sangat merepotkan, harga tanaman pangan akan semakin mahal dan semuanya akan berdampak pada sektor ekonomi nasional.

Faktor yang sangat penting-disamping TNGP sebagai stok sumber daya keanekaragaman hayati-adalah peran kawasan ini sebagai stok sumber daya air. Walaupun tidak mudah untuk menghitung secara langsung sumber daya air yang ada di TNGP, namun peran tersebut bisa dilihat secara langsung dengan menghitung berapa kapasitas air yang diperlukan oleh sawah, perladangan dan perkebunan, serta perumahan penduduk yang ada disekitar taman, perladangan dan perkebunan serta perumahan penduduk yang ada di sekitar taman nasional tersebut.

Bukankah air merupakan sumber kehidupan? Bila air tidak ada, dari mana sawah dan perkebunan di puncak-yang menjadi supplier mayoritas palawija dan tanaman pangan di Jakarta-bisa berhasil dengan baik.

PROFESOR Otto Soemarwoto menjelaskan, jika luas hutan berkurang, laju resapan air ke dalam tanah menurun, laju larian air naik dan bahaya banjir semakin meningkat. Dalam hal ini bertambahnya air karena berkurangnya luas hutan sangatlah merugikan. Laju air akan bertambah jika hutan dikonversikan menjadi bangunan fisik seperti gedung, jalan raya dan bangunan lainnya.

Soemarwoto memperkirakan laju konversi kawasan puncak menjadi bangunan dan vila mengakibatkan peningkatan larian volume air dari 5 persen curah hujan menjadi 40 persen. Dengan curah hujan 3.000 mm/th, kenaikan volume larian air adalah 10.500m³/ha/th yang setara dengan 2.100 truk tangki minyak berkapasitas 5.000 lt. Maka umpama terjadi konversi (penggundulan) vegetasi hutan 10 ha artinya sama dengan melepaskan 21.000 truk air berkapasitas 5.000 lt dari puncak.

Tidak heran, jika puluhan hektar hutan gundul di kawasan puncak mampu menggerus ratusan rumah dalam hitungan menit seperti terjadi pada tragedi Bahorok atau peristiwa bencana kawasan wisata Mojokerto yang menelan puluhan jiwa. Dengan adanya tutupan hutan sebanyak 22.000 ha di TNGP, secara kasar air tertampung yang disangga oleh gunung ini adalah setara dengan: 46,2 juta truk air berkapasitas 5.000 lt.

Bila panjang truk tangki rata-rata 10 meter, maka air yang dijajarkan bisa berderet sejauh 4.620 km, atau setara dengan empat kali panjang Pulau Jawa. Bagaimana kalau air di seluruh truk itu lepas? Jakarta akan tenggelam!

Maka kawasan hutan Gunung Gede Pangrango tidak dapat disangkal mempunyai jasa besar sebagai kawasan tangkapan air (water catchment) bagi warga sekitarnya termasuk Jakarta. Kawasan ini juga dihitung merupakan jantung bagi 100.000 ha kawasan berupa daerah resapan air berupa sawah dan ladang di sekitarnya. Jantung inilah yang memompa dan mengatur "denyut nadi" sungai-sungai dan lahan basah (wetland area) yang berhulu di gunung itu.

CONSERVATION International menghitung, aset yang dimiliki dengan melestarikan hutan dan Taman Nasional Gede Pangrango mempunyai nilai sekitar Rp 920 miliar (100 juta dollar AS) per tahun untuk menghidupi sekitar 20 juta penduduk yang ada di sekitarnya. Kalau tangkapan air ini musnah, akibatnya beberapa pabrik air mineral yang mengolah air bersih tidak lagi akan berproduksi dan semua penduduk akan kekeringan bila musim kemarau tiba.

Dalam perhitungan ekonomi penting, Wiratno dkk (2002) mengkalkulasi nilai air yang ada di TNGP dalam dua kategori: (1) Nilai air yang digunakan untuk mengairi sawah dan lahan-lahan pertaniannya, (2) Nilai konsumsi rumah tangga. Dari kedua nilai itu bila dijumlahkan air yang sangat vital sifatnya berharga Rp 2.95 miliar per tahun dan akan meningkat harganya menjadi Rp 27.80 miliar 25 tahun yang akan datang. (lihat tabel 1).

Penilaian pentingnya air memang sangat berorientasi pada kepentingan manusia yang ada di sekitar taman nasional itu sendiri. Namun, jika hendak dihubungkan secara global, ekosistem taman nasional adalah lebih dari itu, yaitu dengan hutan hujannya-kawasan ini-juga telah berjasa menjaga keseimbangan iklim dan mereduksi berkurangnya pemanasan global.

Secara karakteristik, studi tentang TNGP juga dilakukan Natural Resources Management (NRM).

Menurut lembaga ini, karena terjadi konversi lahan yang terus berlangsung di kawasan puncak baik untuk pertanian menjadi kawasan hunian atau pembangunan industri yang mengutamakan keuntungan ekonomi, maka dampaknya adalah terjadi erosi di kawasan aliran sungai, sehingga pernah dicatat rata-rata erosi per hektar mengakibatkan sedimentasi 249.25 ton.

Erosi ini dapat mengakibatkan pendangkalan dan mengganggu daerah aliran sungai sehingga apabila terjadi curah hujan di atas rata-rata kawasan yang tadinya tidak disangka banjir-karena aliran sungai telah mendangkal-cakupan banjir akan lebih meluas. Perlu dicatat, air yang mengalir dari TNGP merupakan salah satu sumber aliran air sepanjang 117 km yang bermuara pada Sungai Ciliwung, di Jakarta.

Pasti ada yang ingin tahu seberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari keberadaan TNGP? Secara ekonomi dan nilai jasa mengenai untung rugi (cost and benefit) dapat dilihat dengan hanya menilai kayu yang ada di TNGP dijumpai hanya bernilai Rp 1,7 miliar (1999), sedangkan nilai kerugian lain dihitung juga adalah biaya yang dikeluarkan untuk manajemen taman nasional tersebut yaitu Rp 1.32 miliar.

Perbandingan diambil dengan menghitung manfaat bila kayu tidak dieksploitasi yaitu dengan memanfaatkannya secara berkelanjutan pada sektor: pariwisata, manfaat air untuk pertanian, air rumah tangga, penelitian dan pendidikan, serta pelayanan ekosistem yang mencakup udara bersih, produk hutan nonkayu, nilai keanekaragaman hayati, dan lain-lain.

Perhitungan untung rugi ini memperoleh nilai 1,46 yaitu berarti mengelola TNGP secara berkelanjutan dengan sistem taman nasional akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan hanya mengambil kayunya saja. Artinya, penilaian terhadap keberadaan TNGP mengindikasikan bahwa keuntungan akan dapat diperoleh cenderung lebih besar jika TNGP dikelola dengan baik dan dipertahankan sebagai kawasan konservasi.

DAMPAK positif "jasa"dari keberadaan TNGP; seperti tangkapan air, kontrol sedimentasi, mengurangi polusi, pengembangan wisata dan pelayanan lainnya-mengilustrasikan betapa pentingnya kawasan ini bagi masyarakat di sekitarnya hingga yang berada-di Jakarta-sekalipun.

Oleh sebab itu, apa saja rencana yang akan dilakukan dan diperkirakan mempunyai dampak besar di kawasan puncak terutama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, harus menjadi pertimbangan yang matang. Bahkan, dengan pertimbangan di atas, hendaknya kondisi hutan sebagai resapan air perlu dilakukan.

Kita juga perlu menanam pohon guna menambah pelayanan yang masih kurang sebagai pengendali keseimbangan ekosistem yang ada di kawasan sekitarnya. Harapan lain, misalnya, pemerintah daerah yang menjadi "penguasa" di kawasan puncak, seperti Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, tetapi konsisten menjalankan disiplin tata ruang yang telah disepakati melindungi hutan bahkan menanam kembali hutan guna memperbesar stok tangkapan air guna membantu rosot karbon (carbon sinc) terutama akibat polusi ulah orang-orang masyarakat industri dari Jakarta.

Sumber : Fachruddin Mangunjaya, Bekerja pada Conservation International Indonesia
kompas

Related Posts by Categories



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar